(Arrahmah.com) – Sebelas pria yang diduga dari etnis Muslim Uighur dari wilayah Xinjiang, Cina, telah ditembak mati oleh polisi perbatasan ketika hendak menyeberang ke Kirgiztan, menurut laporan para pejabat di republik Asia Tengah pada Jum’at pekan lalu, seperti dilansir RFA.
Insiden ini memicu seruan dari organisasi HAM untuk penyelidikan pembunuhan 11 pria itu di tengah kekhawatiran bahwa mereka mungkin para pengungsi yang melarikan diri akibat penindasan.
Pejabat Kirgiztan mengklaim bahwa sembilan di antara mereka ditembak mati oleh seorang penjaga perbatasan Kirgiztan sementara dua lainnya dibunuh lebih awal oleh seorang pemburu lokal yang melihat mereka di pegunungan di dekat perbatasan tersebut pada Kamis (23/1/2014).
Sementara itu, kepala penjaga perbatasan Kirgiztan Raimberdi Duishenbiyev menuding 11 pria Uighur tersebut adalah orang-orang “separatis.”
11 pria itu nampaknya “bagian dari separatis Uighur,” katanya kepada wartawan, dikutip AP.
Kongres Uighur Dunia (WUC), kelompok HAM Uighur yang berbasis di Jerman, mengatakan pihaknya yakin bahwa 11 korban itu kemungkinan besar adalah para pengungsi yang melarikan diri karena penindasan. Organisasi tersebut menyerukan penyelidikan yang menyeluruh, transparan dan independen atas kasus pembunuhan ini.
Informasi yang disajikan pejabat tentang insiden ini telah meningkatkan pertanyaan terkait kebenaran faktanya. wuc mencurigai narasi resmi dari pejabat, mengatakan bahwa hubungan dekat rezim Cina dengan Kirgiztan melalui Shanghai Cooperation Organization (SCO)-sebuah kelompok regional yang misinya adalah untuk memerangi apa yang mereka sebut “terorisme” dan “separatisme.”
“Kirgiztan masih menjadi penghubung penting yang mana para pengungsi Uighur bisa melarikan diri dari penindasan ke tujuan yang mereka tuju di Turkistan Timur,” kata presiden WUC Rebiya Kadeer dalam sebuah pernyataan, dikutip RFA.
“Telah diketahui bahwa pihak berwenang Cina mengekspor penindasan mereka di luar negeri melalui SCO untuk mengekang aktivisme orang Uighur dan orang Uighur yang mencari perlindungan,” tambahnya.
Otoritas Cina telah melakukan sweeping intensif terhadap warga Muslim Uighur di Xinjiang dalam beberapa bulan terakhir. Menurut laporan media resmi negara tersebut, 91 orang Uighur telah tewas dibunuh sejak April tahun lalu, sebagian besar dari mereka dituduh “terorisme” dan “separatisme” tanpa pengadilan. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’uun.
(siraaj/arrahmah.com)