Selasa, 25 Februari 2014

Hikayat Sang Wanita Perkasa itu…

Posted on 20/12/2011. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh | Tags: , , |


160 Tahun silam 1848, di pelosok aceh tepatnya diLampadang, Aceh Besar lahir seorang wanita yang diberi nama Cut Nyak Dhien. Beliau wafat/dimakamkan di Gunung Puyuh pada 6 November 1908 Sumedang, Jawa Barat. adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia dari Aceh yang berjuang melawan Belanda pada masa Perang Aceh.Kehidupan AwalCut Nyak Dhien dilahirkan dari keluarga bangsawan yang taat beragama. Ayahnyabernama Teuku Nanta Setia, seorang uleebalang, yang juga merupakan keturunan Machmoed Sati, perantau dari Sumatera Barat. Machmoed Sati mungkin datang ke Aceh pada abad ke 18, dimana Aceh diperintah oleh Sultan Jamalul Badrul Munir. Karena itu, Ayah dari Cut Nyak Dhien adalah keturunan Minangkabau. Ibu Cut Nyak Dhien adalah putri uleebalang Lampagar.Pada masa kecilnya, Cut Nyak Dhien adalah anak yang cantik.Sewaktu kecil, ia memperoleh pendidikan pada bidang agama yang dididik oleh orang tua ataupun guru agama, rumah tangga (memasak, melayani suami, dan yang menyangkut kehidupan sehari-hari) yang dididik baik oleh orang tuanya. Dan juga, banyak laki-laki yang suka pada Cut Nyak Dhien dan berusaha melamarnya. Sehingga pada usia 12 tahun, dia sudah dinikahkan oleh orangtuanya pada tahun 1862 dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga<3><2>, putra dari uleebalang Lamnga XIII. Mereka memiliki satu anak laki-laki. Perlawanan saat Perang AcehPada tanggal 26 Maret 1873, Belanda menyatakan perang kepada Aceh, dan mulai melepaskan tembakan meriam ke daratan Aceh dari kapal perang Citdadel van Antwerpen. Sehingga meletuslah Perang Aceh. Perang pertama (1873-1874), yang dipimpin oleh Panglima Polim dan Sultan Machmud Syah melawan Belanda yang dipimpin Kohler. Saat itu, Belanda mengirim 3.198 prajurit. Lalu, pada tanggal 8 April 1873, Belanda mendarat di Pantai Ceureumen dibawah pimpinan Kohler, dan langsung bisa menguasai Masjid Raya Baiturrahman dan membakarnya. Cut Nyak Dhien yang melihat hal ini berteriak:“ Lihatlah wahai orang-orang Aceh!! Tempat ibadat kita dirusak!! Mereka telah mencorengkan nama Allah! Sampai kapan kita begini? Sampai kapan kita akan menjadi budak Belanda?.”Saat itu, Kesultanan Aceh dapat memenangi perang ini. Ibrahim Lamnga yang bertarung di garis depan kembali dengan sorak kemenangan. Dan Kohler tewas tertembak pada April 1873.Namun pada perang kedua (1874-1880), dibawah pimpinan Jenderal Van Swieten. Daerah VI Mukim dapat diduduki Belanda pada tahun 1873, sedangkan Keraton Sultan jatuh pada tahun 1874. Cut Nyak Dhien dan bayinya akhirnya mengungsi bersama ibu-ibu dan rombongan lainnya pada tanggal 24 Desember 1875, dimana suaminya bertempur untuk merebut kembali daerah VI Mukim. Namun, Ibrahim Lamnga tewas di Gle Tarum pada tanggal 29 Juni 1878. Hal ini membuat Cut Nyak Dhien sangat marah dan bersumpah akan menghancurkan Belanda.

Teuku Umar

Setelah itu, Teuku Umar, tokoh pejuang Aceh, melamar Cut Nyak Dhien. Tadinya Cut Nyak Dhien menolak, namun karena Teuku Umar mempersilahkannya untuk ikut bertempur dalam medan perang. Cut Nyak Dien akhirnya menikah lagi dengan Teuku Umar pada tahun 1880. Hal ini membuat meningkatnya moral semangat perjuangan Aceh melawan Kapke Ulanda (Belanda Kafir). Pada saat Perang ketiga (1881-1896) meletus, perang dilanjutkan secara gerilya dan dikobarkan perang fi”sabilillah. Hal buruk terjadi untuk Aceh, Teuku Umar mulai mendekati Belanda dan hubungannya dengan orang Belanda semakin kuat. Cut Nyak Dhien dan rakyat Aceh khawatir akan hal ini, sampai Cut Nyak Meutia datang menemui Cut Nyak Dhien dan memakinya. Cut Nyak Dien berusaha menasehatinya untuk kembali melawan Belanda. Tapi, ia masih terus berhubungan dengan Belanda. Dan juga, pada saat orang Belanda datang ke rumahnya, Cut Nyak Dhien selalu menyingkir dari situ. Lalu pada tanggal 30 September 1893, Teuku Umar dan pasukannya yang berjumlah 250 orang pergi ke Kutaraja dan menyerahkan diri kepada Belanda. Lalu, Belanda memberi Teuku Umar gelar Teuku Umar Johan Pahlawan. Teuku Umar mengikuti perintah Belanda dengan merebut daerah pejuang Aceh. Namun, akhirnya Teuku Umar menunjukan bahwa dia hanya menipu Belanda dalam sandiwara untuk mendapatkan senjata-senjata dengan mengkhianatinya saat ia dan pasukannya diberi senjata oleh Belanda. Penghianatan ini disebut Het verraad van Teukoe Oemar (penghianatan Teuku Umar). Akibat dari penghianatan ini, Belanda mencabut gelarnya dan membakar rumahnya. Dan Belanda terus mengejar keberadaannya, sampai Belanda menemukan rencana Teuku Umar untuk menyerang Meulaboh pada tanggal 11 Februari 1899. Dan akhirnya, Teuku Umar gugur tertembak peluru. Karena hal ini, Cut Nyak Dien memimpin pasukan pada usianya yang ke 50 tahun melawan Kapke Ulanda (Belanda Kafir).Pada Perang keempat (1896-1910), Cut Nyak Dien memimpin perlawanan melawan Belanda di daerah pedalaman Meulaboh bersama pasukan kecilnya. Tetapi, tentara Belanda sudah terbiasa berperang di medan daerah Aceh. Selain itu, Cut Nyak Dien semakin tua. Matanya sudah mulai rabun, dan ia terkena penyakit encok. Selain itu jumlah pasukannya terus berkurang, dan sulitnya memperoleh makanan. Hal ini membuat iba para pasukan-pasukannya. Sehingga, salah satu pasukannya bernama Pang Laot melaporkan lokasi markas Cut Nyak Dien pada Belanda karena iba. Lalu, segera, Belanda menyerang markas Cut Nyak Dien. Sebelum ditangkap, Cut Nya Dien mengambil rencong dan hendak membunuh Pang Laot dengan rencong, namun aksinya berhasil dihentikan oleh Belanda. Meninggal Setelah tertangkap, ia dibawa ke Banda Aceh dan ia dirawat disitu. Penyakitnya berangsur-angsur sembuh. Namun, karena Belanda takut kehadirannya membuat semangat perlawanan, selain itu karena terus berhubungan dengan pejuang yang belum tunduk, akhirnya Belanda kesal dan akhirnya ia dibuang ke Sumedang, Jawa Barat. Akhirnya pada tanggal 6 November 1908, ia meninggal karena usianya yang sudah tua. Karena perjuangannya, Cut Nyak Dien dinobatkan menjadi Pahlawan Nasional Indonesia. Penobatan tersebut dikuatkan dengan SK Presiden RI No.106 Tahun 1964, pada tanggal 2 Mei 1964.

Makam Cut Nyak Dien di Sumedang-Jawa
SEJARAH AWAL PERJUANGAN ISLAM BANGSAMORO DI SELATAN FILIPINA
Kisah tentang penindasan Bangsamoro, boleh kita mulakan dari satu nama yang dianggap satu dari seratus manusia paling berpengaruh,  oleh Michael Hart. Namanya Ferdinand Magellan (1480-1521), seorang yang mendapat sematan nama sebagai penjelajah besar yang mengelilingi dunia. Michael Hart mengarungi dunia dengan membawa lima kapal, 265 awak-awak/anak kapal selama hampir tiga tahun. Dalam kurun waktu itu, yang berhasil kembali dengan selamat hanya satu kapal, dan 18 anak buah kapal yang hidup selamat. Ferdinand Magellan sendiri termasuk yang tewas di tengah perjalanan.
Pada tahun 1509, ekspedisi Ferdinand Magellan sampai di wilayah Nusantara. Ternyata tak hanya ekspedisi, Ferdinand Magellan juga membawa misi lain, iaitu kolonialisasi Sepanyol dan misi Kristinisasi. Terjadi pertempuran di wilayah Malaka, karena rakyat menolak kedatangannya. Pada tahun 1521, ekspedisi ini diteruskan dan mereka berjaya menjejakkan kaki di kepulauan Filipina. Proses Kristianisasi dan kolonialisasi langsung terjadi di negara tersebut.
Raja Humabon, bersama rakyat Cebu berjaya dimurtadkan dari agama Islam dan dikristiankan. Bahkan Ferdinand Magellan menggelarkan bahwa rakyat Cebu adalah warga Tuhan Spanyol. Di wilayah Utara proses Kristianisasi terus berlangsung dengan lancarnya. Tapi ketika sampai di wilayah Selatan Kepulauan Filipina, terutama di Mindanao dan Sulu, rakyat yang sebahagian besar telah menjadi Muslim sejak lama memberikan perlawanan yang sengit meski dengan senjata sederhana.
Program Gold, Glory and Gospel terhenti di wilayah selatan Filipina, seperti Mindanao dan pulau-pulau di sekitarnya. Kaum Muslimin melakukan perlawanan dengan gigih dan berani, meskipun Sepanyol menyerang mereka dengan senjata canggih.
Pejuang-pejuang BangsaMoro
Jauh sebelum Ferdinand dan penjajah Sepanyol membawa agama Kristian ke negeri ini, hampir sebagian besar penduduk kepulauan Filipina telah mengucapkan dua kalimat syahadat. Jejak keislaman mereka, bahkan hingga kini masih ada dan tak mampu dihapuskan oleh penjajah. Nama ibukota Filipina misalnya, Manila diambil dari kata bahasa Arab, Amanullah yang berarti negeri Allah yang aman. Bahkan di wilayah ini pernah berdiri kerajaan Islam yang bernama Kerajaan Tondo.
BangsaMoro adalah pelaut yang hebat
Seperti halnya Indonesia, Filipina adalah sebuah negara yang terdiri dari kepulauan dengan jumlah yang sangat besar. Tak kurang 7107 pulau berada di dalam teritorial Filipina. Islam telah berkembang di wilayah ini sejak abad ke-14. Ertinya, jauh sebelum masa itu Islam telah menjejakkan kakinya dan memberikan sentuhan dakwah pada penduduk setempat. Sampai pada satu titik, seorang raja yang sangat ternama di Manguindanao bersyadahat dan memeluk Islam. Kekuasaan sang raja membesar sampai ke Davao, Tenggara Mindanao dan Islam pun kian menyebar sampai ke Pulau Lanao, Zamboanga dan hampir ke seluruh daerah garis pantai kepulauan Filipina. Tapi ada juga legenda yang menyebutkan, Islam pertama kali dibawa oleh seorang sufi bernama Karim al-Makdum yang berlayar dengan mangkuk besi, boleh berjalan di atas air dan dikhabarkan boleh terbang oleh disebabkan karomahnya.
Sejarah mencatat, ulama-ulama Indonesia berperan besar dalam penyebaran Islam di Filipina. Bahkan disebutkan, seorang pangeran dari Menangkabaw atau Minangkabau bernama Baguinda adalah salah satu pendakwah Islam di wilayah ini, terutama di Sulu, Zamboanga dan Basilan. Kerana itu, tak hairan jika sampai hari ini kita boleh mendapatkan banyak kemiripan antara Indonesia dan Filipina, terutama di wilayah Selatan. Wajah dan postur tubuh, tak jauh berbeza. Bahasa dan kata, banyak yang sama. Contohnya, untuk hidung, mereka menyebutnya hidung. Telinga bergeser sedikit menjadi inga. Kita bahkan menggunakan kata yang sama untuk pintu, kanan, murah, mahal, gunting, balai, aku, kita dan masih banyak kata sama lainnya.
Islam pernah menjelma sebagai kekuatan besar di wilayah Filipina, dan diwakili oleh Kesultanan Sulu. Wilayah kekuasaan Sulu membentang dari Mindanao hingga Sabah di Malaysia. Kesultanan Sulu dipimpin oleh Sharif al-Hasyim Syed Abu Bakar yang menikahi putri Raja Baguinda dan kemudian mendapat gelar Paduka Maulana Mahasari. Sejarah Kesultanan Sulu menerangkan, Sharif al-Hasyim masih memiliki darah keturunan Rasulullah dari Bani Hasyim.
Dari wilayah inilah perlawanan berlangsung dengan sengit ketika penjajah Sepanyol menunjukkan kuku dan taringnya. Tak jauh berbeza dengan yang terjadi di Indonesia, penjajah Spanyol memecah belah persatuan umat Islam dan memberikan stigmatisasi yang buruk. Mereka menyebut orang-orang Islam di Filipina Selatan dengan sebutan Moro yang diambil dari kata Moor yang merujuk kaum Muslimin dalam sejarah Perang Salib.
Suku-suku diadu domba dengan pengaruh dan kekuasaan. Para Datuk yang menjadi penguasa dirasuah dengan pelbagai keuntungan serta hasutan perang suku. Tapi ada satu kekuatan yang ternyata mampu menyatukan mereka, dan itu adalah Islam. Agama Islam datang ke Filipina bukan dengan alasan penguasaan dan perampasan kekayaan, tapi dibawa dengan damai oleh pedagang dan pendakwah. Berbeza dengan Katholik yang disebarkan sebagai tulang punggung penjajahan Sepanyol.
Tentera Islam BangsaMoro
Nama Filipina pun muncul dengan semangat penjajahan. Seorang awak kapal Sepanyol yang bernama Bernardo de la Torre memberi nama kepulauan ini dengan sebutan Filipinas, sebagai penghormatan kepada putra mahkota Sepanyol kala itu yang kelak bergelar Philip II. Kebencian orang-orang Sepanyol karena pernah ditaklukkan di Andalusia, rupanya terbawa sampai ke wilayah Nusantara. Bahkan ketika Philip II berkuasa, dalam suratnya yang dikirim untuk Conquisatador Legazpi, Raja Philip II mengizinkan penduduk Muslim diperbudak dan dirampas hartanya. Kebijakan ini hampir merata pada seluruh kepemimpinan Sepanyol di Filipina. Mereka menyebarkan kabar bahwa Islam ini adalah agama bid’ah, Islam adalah ajaran setan, kaum Muslimin adalah pembawa wabah penyakit dan lain sebagainya. Pendeta Jesuit Pio Pi menggambarkan kaum Muslimin sebagai bajak laut. Bahkan Pendeta Francisco Ducos pendakwah kristian di Illagan mengetuai pasukan militer dan selama tujuh tahun memerangi penduduk Muslim. Tapi kekuatan bersenjata Sepanyol yang demikian besar dan motivasi agama yang dikobar-kobarkan serta dicanangkan pemimpin Katholik, tak mampu menaklukkan wilayah Selatan.
Pertembungan kaum Muslimin yang diketuai oleh Sultan Sulu mampu mempertahankan wilayah ini selama peperangan yang berlangsung hampir tiga abad. Dalam peperangan yang panjang ini, terjadi solidaritas tinggi antara kaum Muslimin di seluruh wilayah Nusantara yang meliputi Indonesia, Malaysia, dan juga Brunei. Bahkan pada era 1638, Kesultanan Makassar dan Ternate berperan sangat besar dalam memberikan bantuannya kepada kaum Muslimin di Filipina.
Pada tahun 1638, ketika Gabernor Sepanyol, Corcuera menyerbu Sulu, Sultan Sulu yang bernama Raja Bongsu mendapat bantuan kiriman pasukan perajurit-perajurit Makassar yang gagah berani. Raja Bongsu memerintah sejak tahun 1612 dengan gelar Mawallil Wasit, dan sejak awal dia telah mendapat serangan dari Spaniard. Pada tahun 1628 misalnya, 200 perwira Sepanyol dengan 1.600 penduduk setempat yang berhasil dikristiankan menyerang Sulu dengan hebat. Tahun 1629, wilayah Sulu direbut antara Camarines, Samar, Leyte, dan Bohol. Pada tahun 1630, kembali Manila Spaniard menyerang, kali ini Jolo menjadi sasaran. Tapi Raja Bongsu berhasil memukul mundur bahkan melukai Lorenzo de Olaso, komandan pasukan dan mereka menarik mundur serangan. Di masa pemerintahan Raja Bongsu inilah terjadi paling banyak peperangan besar antara penjajah Kristen Spanyol dan Kesultanan Islam Sulu.
Perang Sabil, begitu rakyat Sulu menyebut zaman perang melawan kaum kafir Sepanyol. Hampir sama dengan penyebutan di Aceh, Prang Sabi. Tak jauh berbeza kerana sesungguhnya kita serumpun, satu ikatan, bahkan lebih besar lagi, satu akidah: Islam.
Tapi nampaknya perjuangan belum usai setelah Sepanyol berundur dari tanah Filipina. Sepanyol berhasil dikalahkan Amerika dan Sekutunya. Dalam Perjanjian Paris yang ditandatangani 10 Desember 1898, Sepanyol menyeranhkan Filipina kepada Amerika dengan $ 20 juta dolar. Sebenarnya, kelompok-kelompok perlawanan di Filipina pernah mengesahkan kemerdekaan pada 12 Juni 1898, tapi Amerika menolak dan tidak mengakuinya. Maka sejak 10 Desember 1898, Filipina berganti penjajah baru, Amerika Serikat. Amerika dikecam banyak negara Barat, kerana melanggar Doktrin Monroe yang menentang kolonialisme dan imperalisme. Tapi Amerika tak ambil pusing dengan semua gugatan dunia. Pada tahun 1919, sebuah delegasi pergi ke Amerika menuntut kemerdekaan untuk Filipina. Namun dengan sombongnya Amerika mengirimkan The Wood Forbes Mission pada tahun 1922 yang mengatakan, “Filipina belum mampu merdeka.”
Pada period berikutnya, Amerika mengalami kekalahan di wilayah Pasifik oleh negara Jepun. Pada tahun 2 Januari 1942, Manila jatuh ke tangan Jepun. Seperti yang diketahui, kekuasaan Jepun hanya setahun jagung. Akhirnya Jepun telah berjya dikalhkan dan Amerika masuk kembali ke Filipina. Pada 4 Julai 1946, Amerika melepaskan Filipina sebagai negeri jajahannya. Meskipun demikian, sampai hari ini Amerika masih meletakkan penjajahan secara halus dengan cara membangun fasiliti ketenteraan di Filipina.
Manuel Quezson menjadi presiden pertama Filipina. Hari itu tercatat sebagai hari kemerdekaan Filipina. Tapi tidak dengan kaum Muslimin di wilayah Selatan, mereka masih terjajah hingga hari ini. Ertinya, kaum Muslimin di Mindanao dan wilayah Selatan Filipina mengalami penjajahan dalam proses yang panjang. Pertama mereka dijajah Sepanyol, lalu Amerika Syarikat, setelah itu Jepun dan kembali lagi pada Amerika. Kini Bangsa Moro dijajah oleh pemerintah Filipina sendiri. Mereka dianiaya, dizalimi, dirampas dan ditindas.
Bendera Moro Islamic Liberation Front (MILF)
Pejuang Islam Moro di kem tentera
Nasib kaum Muslimin di Mindanao tak pernah berubah, masih sama, terus terjajah. Bezanya hanya satu, kalau dulu, saudara Muslim dari Ternate, Makassar, Brunei, dan Malaysia datang membela, kini pembelaan yang dinanti itu belum tiba. Sekarang saatnya membela Muslim Filipina!
Sumber rujukan:
1.Mindanao News
2.Luwaran.com
3.Wikipedia
4.Buku-buku di MPH
p/s – Semoga perjuangan menegakkan syiar Islam oleh para pejuang Islam Moro akan berjaya suatu hari nant
Kisah tentang penindasan Bangsamoro, boleh kita mulakan dari satu nama yang dianggap satu dari seratus manusia paling berpengaruh,  oleh Michael Hart. Namanya Ferdinand Magellan (1480-1521), seorang yang mendapat sematan nama sebagai penjelajah besar yang mengelilingi dunia. Michael Hart mengarungi dunia dengan membawa lima kapal, 265 awak-awak/anak kapal selama hampir tiga tahun. Dalam kurun waktu itu, yang berhasil kembali dengan selamat hanya satu kapal, dan 18 anak buah kapal yang hidup selamat. Ferdinand Magellan sendiri termasuk yang tewas di tengah perjalanan.
Pada tahun 1509, ekspedisi Ferdinand Magellan sampai di wilayah Nusantara. Ternyata tak hanya ekspedisi, Ferdinand Magellan juga membawa misi lain, iaitu kolonialisasi Sepanyol dan misi Kristinisasi. Terjadi pertempuran di wilayah Malaka, karena rakyat menolak kedatangannya. Pada tahun 1521, ekspedisi ini diteruskan dan mereka berjaya menjejakkan kaki di kepulauan Filipina. Proses Kristianisasi dan kolonialisasi langsung terjadi di negara tersebut.
Raja Humabon, bersama rakyat Cebu berjaya dimurtadkan dari agama Islam dan dikristiankan. Bahkan Ferdinand Magellan menggelarkan bahwa rakyat Cebu adalah warga Tuhan Spanyol. Di wilayah Utara proses Kristianisasi terus berlangsung dengan lancarnya. Tapi ketika sampai di wilayah Selatan Kepulauan Filipina, terutama di Mindanao dan Sulu, rakyat yang sebahagian besar telah menjadi Muslim sejak lama memberikan perlawanan yang sengit meski dengan senjata sederhana.
Program Gold, Glory and Gospel terhenti di wilayah selatan Filipina, seperti Mindanao dan pulau-pulau di sekitarnya. Kaum Muslimin melakukan perlawanan dengan gigih dan berani, meskipun Sepanyol menyerang mereka dengan senjata canggih.
Pejuang-pejuang BangsaMoro
Jauh sebelum Ferdinand dan penjajah Sepanyol membawa agama Kristian ke negeri ini, hampir sebagian besar penduduk kepulauan Filipina telah mengucapkan dua kalimat syahadat. Jejak keislaman mereka, bahkan hingga kini masih ada dan tak mampu dihapuskan oleh penjajah. Nama ibukota Filipina misalnya, Manila diambil dari kata bahasa Arab, Amanullah yang berarti negeri Allah yang aman. Bahkan di wilayah ini pernah berdiri kerajaan Islam yang bernama Kerajaan Tondo.
BangsaMoro adalah pelaut yang hebat
Seperti halnya Indonesia, Filipina adalah sebuah negara yang terdiri dari kepulauan dengan jumlah yang sangat besar. Tak kurang 7107 pulau berada di dalam teritorial Filipina. Islam telah berkembang di wilayah ini sejak abad ke-14. Ertinya, jauh sebelum masa itu Islam telah menjejakkan kakinya dan memberikan sentuhan dakwah pada penduduk setempat. Sampai pada satu titik, seorang raja yang sangat ternama di Manguindanao bersyadahat dan memeluk Islam. Kekuasaan sang raja membesar sampai ke Davao, Tenggara Mindanao dan Islam pun kian menyebar sampai ke Pulau Lanao, Zamboanga dan hampir ke seluruh daerah garis pantai kepulauan Filipina. Tapi ada juga legenda yang menyebutkan, Islam pertama kali dibawa oleh seorang sufi bernama Karim al-Makdum yang berlayar dengan mangkuk besi, boleh berjalan di atas air dan dikhabarkan boleh terbang oleh disebabkan karomahnya.
Sejarah mencatat, ulama-ulama Indonesia berperan besar dalam penyebaran Islam di Filipina. Bahkan disebutkan, seorang pangeran dari Menangkabaw atau Minangkabau bernama Baguinda adalah salah satu pendakwah Islam di wilayah ini, terutama di Sulu, Zamboanga dan Basilan. Kerana itu, tak hairan jika sampai hari ini kita boleh mendapatkan banyak kemiripan antara Indonesia dan Filipina, terutama di wilayah Selatan. Wajah dan postur tubuh, tak jauh berbeza. Bahasa dan kata, banyak yang sama. Contohnya, untuk hidung, mereka menyebutnya hidung. Telinga bergeser sedikit menjadi inga. Kita bahkan menggunakan kata yang sama untuk pintu, kanan, murah, mahal, gunting, balai, aku, kita dan masih banyak kata sama lainnya.
Islam pernah menjelma sebagai kekuatan besar di wilayah Filipina, dan diwakili oleh Kesultanan Sulu. Wilayah kekuasaan Sulu membentang dari Mindanao hingga Sabah di Malaysia. Kesultanan Sulu dipimpin oleh Sharif al-Hasyim Syed Abu Bakar yang menikahi putri Raja Baguinda dan kemudian mendapat gelar Paduka Maulana Mahasari. Sejarah Kesultanan Sulu menerangkan, Sharif al-Hasyim masih memiliki darah keturunan Rasulullah dari Bani Hasyim.
Dari wilayah inilah perlawanan berlangsung dengan sengit ketika penjajah Sepanyol menunjukkan kuku dan taringnya. Tak jauh berbeza dengan yang terjadi di Indonesia, penjajah Spanyol memecah belah persatuan umat Islam dan memberikan stigmatisasi yang buruk. Mereka menyebut orang-orang Islam di Filipina Selatan dengan sebutan Moro yang diambil dari kata Moor yang merujuk kaum Muslimin dalam sejarah Perang Salib.
Suku-suku diadu domba dengan pengaruh dan kekuasaan. Para Datuk yang menjadi penguasa dirasuah dengan pelbagai keuntungan serta hasutan perang suku. Tapi ada satu kekuatan yang ternyata mampu menyatukan mereka, dan itu adalah Islam. Agama Islam datang ke Filipina bukan dengan alasan penguasaan dan perampasan kekayaan, tapi dibawa dengan damai oleh pedagang dan pendakwah. Berbeza dengan Katholik yang disebarkan sebagai tulang punggung penjajahan Sepanyol.
Tentera Islam BangsaMoro
Nama Filipina pun muncul dengan semangat penjajahan. Seorang awak kapal Sepanyol yang bernama Bernardo de la Torre memberi nama kepulauan ini dengan sebutan Filipinas, sebagai penghormatan kepada putra mahkota Sepanyol kala itu yang kelak bergelar Philip II. Kebencian orang-orang Sepanyol karena pernah ditaklukkan di Andalusia, rupanya terbawa sampai ke wilayah Nusantara. Bahkan ketika Philip II berkuasa, dalam suratnya yang dikirim untuk Conquisatador Legazpi, Raja Philip II mengizinkan penduduk Muslim diperbudak dan dirampas hartanya. Kebijakan ini hampir merata pada seluruh kepemimpinan Sepanyol di Filipina. Mereka menyebarkan kabar bahwa Islam ini adalah agama bid’ah, Islam adalah ajaran setan, kaum Muslimin adalah pembawa wabah penyakit dan lain sebagainya. Pendeta Jesuit Pio Pi menggambarkan kaum Muslimin sebagai bajak laut. Bahkan Pendeta Francisco Ducos pendakwah kristian di Illagan mengetuai pasukan militer dan selama tujuh tahun memerangi penduduk Muslim. Tapi kekuatan bersenjata Sepanyol yang demikian besar dan motivasi agama yang dikobar-kobarkan serta dicanangkan pemimpin Katholik, tak mampu menaklukkan wilayah Selatan.
Pertembungan kaum Muslimin yang diketuai oleh Sultan Sulu mampu mempertahankan wilayah ini selama peperangan yang berlangsung hampir tiga abad. Dalam peperangan yang panjang ini, terjadi solidaritas tinggi antara kaum Muslimin di seluruh wilayah Nusantara yang meliputi Indonesia, Malaysia, dan juga Brunei. Bahkan pada era 1638, Kesultanan Makassar dan Ternate berperan sangat besar dalam memberikan bantuannya kepada kaum Muslimin di Filipina.
Pada tahun 1638, ketika Gabernor Sepanyol, Corcuera menyerbu Sulu, Sultan Sulu yang bernama Raja Bongsu mendapat bantuan kiriman pasukan perajurit-perajurit Makassar yang gagah berani. Raja Bongsu memerintah sejak tahun 1612 dengan gelar Mawallil Wasit, dan sejak awal dia telah mendapat serangan dari Spaniard. Pada tahun 1628 misalnya, 200 perwira Sepanyol dengan 1.600 penduduk setempat yang berhasil dikristiankan menyerang Sulu dengan hebat. Tahun 1629, wilayah Sulu direbut antara Camarines, Samar, Leyte, dan Bohol. Pada tahun 1630, kembali Manila Spaniard menyerang, kali ini Jolo menjadi sasaran. Tapi Raja Bongsu berhasil memukul mundur bahkan melukai Lorenzo de Olaso, komandan pasukan dan mereka menarik mundur serangan. Di masa pemerintahan Raja Bongsu inilah terjadi paling banyak peperangan besar antara penjajah Kristen Spanyol dan Kesultanan Islam Sulu.
Perang Sabil, begitu rakyat Sulu menyebut zaman perang melawan kaum kafir Sepanyol. Hampir sama dengan penyebutan di Aceh, Prang Sabi. Tak jauh berbeza kerana sesungguhnya kita serumpun, satu ikatan, bahkan lebih besar lagi, satu akidah: Islam.
Tapi nampaknya perjuangan belum usai setelah Sepanyol berundur dari tanah Filipina. Sepanyol berhasil dikalahkan Amerika dan Sekutunya. Dalam Perjanjian Paris yang ditandatangani 10 Desember 1898, Sepanyol menyeranhkan Filipina kepada Amerika dengan $ 20 juta dolar. Sebenarnya, kelompok-kelompok perlawanan di Filipina pernah mengesahkan kemerdekaan pada 12 Juni 1898, tapi Amerika menolak dan tidak mengakuinya. Maka sejak 10 Desember 1898, Filipina berganti penjajah baru, Amerika Serikat. Amerika dikecam banyak negara Barat, kerana melanggar Doktrin Monroe yang menentang kolonialisme dan imperalisme. Tapi Amerika tak ambil pusing dengan semua gugatan dunia. Pada tahun 1919, sebuah delegasi pergi ke Amerika menuntut kemerdekaan untuk Filipina. Namun dengan sombongnya Amerika mengirimkan The Wood Forbes Mission pada tahun 1922 yang mengatakan, “Filipina belum mampu merdeka.”
Pada period berikutnya, Amerika mengalami kekalahan di wilayah Pasifik oleh negara Jepun. Pada tahun 2 Januari 1942, Manila jatuh ke tangan Jepun. Seperti yang diketahui, kekuasaan Jepun hanya setahun jagung. Akhirnya Jepun telah berjya dikalhkan dan Amerika masuk kembali ke Filipina. Pada 4 Julai 1946, Amerika melepaskan Filipina sebagai negeri jajahannya. Meskipun demikian, sampai hari ini Amerika masih meletakkan penjajahan secara halus dengan cara membangun fasiliti ketenteraan di Filipina.
Manuel Quezson menjadi presiden pertama Filipina. Hari itu tercatat sebagai hari kemerdekaan Filipina. Tapi tidak dengan kaum Muslimin di wilayah Selatan, mereka masih terjajah hingga hari ini. Ertinya, kaum Muslimin di Mindanao dan wilayah Selatan Filipina mengalami penjajahan dalam proses yang panjang. Pertama mereka dijajah Sepanyol, lalu Amerika Syarikat, setelah itu Jepun dan kembali lagi pada Amerika. Kini Bangsa Moro dijajah oleh pemerintah Filipina sendiri. Mereka dianiaya, dizalimi, dirampas dan ditindas.
Bendera Moro Islamic Liberation Front (MILF)
Pejuang Islam Moro di kem tentera
Nasib kaum Muslimin di Mindanao tak pernah berubah, masih sama, terus terjajah. Bezanya hanya satu, kalau dulu, saudara Muslim dari Ternate, Makassar, Brunei, dan Malaysia datang membela, kini pembelaan yang dinanti itu belum tiba. Sekarang saatnya membela Muslim Filipina!
Sumber rujukan:
1.Mindanao News
2.Luwaran.com
3.Wikipedia
4.Buku-buku di MPH
p/s – Semoga perjuangan menegakkan syiar Islam oleh para pejuang Islam Moro akan berjaya suatu hari nant

Sejarah Hang Tuah Hulubalang Melayu



Hikayat Hang Tuah, Antara Sejarah dan Mitos

Judul: Hikajat Hang Tuah Penerbit: Balai Pustaka, Jakarta (Cetakan ke-3, 1956) Tebal: 511 halaman *** NAMA Hang Tuah bisa dipastikan tak asing di telinga banyak orang. Sama halnya dengan banyak tokoh yang dianggap berperan dalam sejarah bangsa ini, nama Hang Tuah pun diabadikan pada ruas-ruas jalan di Jakarta dan di beberapa daerah lain lagi. Bahkan, nama Hang Tuah juga diabadikan pada kapal perang pertama milik Indonesia. Pemberian nama itu untuk mengenang kejayaan Hang Tuah yang selalu mencapai kemenangan di laut. Namun, tidak seperti tokoh-tokoh bersejarah lainnya, tak banyak yang tahu siapa Hang Tuah yang diabadikan namanya itu? Apa perannya dalam sejarah negeri ini?
Memang, bisa dikatakan, keterangan tentang siapa dan apa kiprah Hang Tuah tidak ditemukan dalam literatur-literatur sejarah. Beberapa waktu lalu pernah diangkat kisah-kisah tokoh melayu, termasuk Hang Tuah ini, dalam berbagai versi seperti sandiwara radio maupun tayangan sinema di televisi. Tetap saja, Hang Tuah hanya dikenal sebatas tokoh terkenal dari daerah Melayu.
Tak banyak yang tahu kisah Hang Tuah yang dituliskan dalam sebuah buku berjudul Hikajat Hang Tuah tercatat sebagai karya sastra melayu klasik yang paling panjang. Salah satu versi Hikajat Hang Tuah adalah setebal 593 halaman. Buku berisikan Hang Tuah ini dikenal sejak abad ke-18, dan sejak saat itu disebutkan sangat menarik perhatian para peneliti barat. Hikajat Hang Tuah kemudian sangat terkenal, terbit dalam berbagai versi, dan sekitar 20 buku tersimpan di berbagai perpustakaan di dunia.
PADA buku Hikajat Hang Tuah terbitan Balai Pustaka, kisah tokoh yang di Malaysia dianggap sebagai salah satu pahlawan nasional ini diuraikan dalam 24 bab panjang. Pada pengantar disebutkan, buku tersebut disalin dari salah satu naskah tulis tangan huruf Arab. Pada sampul bagian dalam tertulis: “Inilah hikajat Hang Tuah jang amat setiawan kepada tuannja dan terlalu sangat berbuat kebadjikan kepada tuannja”.
Kisah dimulai dengan bab yang menguraikan asal muasal raja-raja di Malaka atau Melayu. Dengan diantar oleh kata-kata: “Sekali peristiwa…”, diceritakan tentang seorang raja keinderaan (kayangan-Red) Sang Pertala Dewa, yang akan mempunyai seorang anak dan dia akan menjadi raja di Bukit Seguntang. Keturunan-keturunan sang dewa inilah dengan segala kemuliaan yang dimiliki kemudian menjadi raja-raja di tanah Melayu.
Hang Tuah diceritakan sebagai anak Hang Mahmud. Dikisahkan, setelah mendengar kabar gembira tentang negeri Bintan sudah mempunyai seorang raja yang tak lain adalah cucu dari Sang Pertala Dewa, Hang Mahmud pun bergegas mengajak istri dan anaknya pindah ke sana. Di Bintan, Hang Tuah muda bertemu dan bersahabat dengan Hang Jebat, Hang Kesturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu. Kelima pemuda itu diceritakan selalu bersama-sama, seperti lima orang bersaudara.
Suatu hari, Hang Tuah mengusulkan pada keempat sahabatnya untuk pergi berlayar dan merantau bersama-sama. Empat sahabatnya pun setuju, dan mereka berangkat berlayar. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dan menundukkan tiga perahu yang ternyata adalah musuh Bintan dari Siantan. Kawanan tersebut tak lain adalah kaki tangan Patih Gajah Mada dari Majapahit yang ingin memperluas kekuasaan dengan merompak di Tanah Palembang. Akhirnya, lima sekawan itu diangkat menjadi abdi salah seorang pemimpin di negeri Bintan, yang dipanggil Bendahara Paduka Raja. Dari sinilah kisah perjuangan Hang Tuah yang akhirnya justru mendapat gelar laksamana dari Raja Majapahit dimulai.
Dalam buku, terutama melalui tokoh Hang Tuah dan Patih Gajah Mada, dikisahkan adanya persaingan kejayaan antara Malaka dan Majapahit. Gajah Mada tidak digambarkan sebagai tokoh yang mulia ataupun bijaksana. Ia digambarkan dalam sosok yang begitu berkuasa dan ambisius. Beberapa kali ia menyusun rencana untuk menghabisi Hang Tuah yang dianggap sebagai batu penghalang rencananya untuk menguasai Malaka. Berbicara soal musuh, dalam menjalankan tugas sebagai abdi yang setia dan disegani, Hang Tuah pun di negerinya sendiri beberapa kali harus dibuang bahkan hendak dibunuh akibat fitnah. Fitnah itu sebegitu rupa sehingga salah seorang sahabatnya, yaitu Hang Jebat, pun berkhianat.
Hang Tuah memang membawa Malaka pada kejayaan. Tidak hanya ia berhasil membendung serangan dari Majapahit. Ke mana saja ia diutus dan apa pun tugas yang diemban, selalu membuahkan hasil. Namun, dengan masuknya orang-orang dari Eropa, terutama Belanda, akhirnya kejayaan Malaka dihancurleburkan. Pada bagian akhir dikisahkan, Malaka jatuh ke tangan orang-orang dari Johor dan Belanda. Hang Tuah sendiri dikisahkan masih hidup dan tinggal di negeri Batak, menjadi wali agama dan raja.
DEMIKIAN cuplikan kisah tokoh bernama Hang Tuah dari salah satu versi terbitan Balai Pustaka. Tak ada yang tahu, siapa sesungguhnya pengarang Hikajat Hang Tuah. Tahun persis kapan pertama kali kisah ini muncul pun hingga kini tak bisa dipastikan. Tak ubahnya karya-karya sastra kuno umumnya, kisah Hang Tuah ini pun diduga pertama kali dikenal berupa cerita lisan. Kemudian, dalam bentuk naskah tertulis, Hikajat Hang Tuah diduga pertama kali ditulis pada abad ke-16.
Menurut Prof Dr Sulastin Sutrisno (lihat Ketika Hang Tuah Menjadi Disertasi) yang pernah mengangkat Hikajat Hang Tuah menjadi sebuah disertasi, siapa pengarang sesungguhnya memang sulit dipastikan. Namun, yang jelas, karya tersebut mengundang kekaguman sendiri. Sebagai sebuah kisah fiktif, Hikajat Hang Tuah sarat dengan muatan sejarah. Nama-nama kerajaan dan tokoh memang lekat dengan apa yang tercantum dalam catatan-catatan sejarah. Bahkan ada dugaan, pengarang Hang Tuah tidak hanya berpengetahuan luas karena sarat dengan muatan sejarah, namun juga banyak menggunakan sumber sastra lain. Dugaan ini muncul karena pada beberapa bagian, terdapat kemiripan dengan cerita-cerita klasik lain seperti Kisah Panji, Hikajat Sri Rama, dan sebagainya.
Salah seorang ahli sastra, Sir Richard Windstedt, menyebutkan, karya sastra klasik seperti Hikajat Hang Tuah ini identik dengan syair-syair bermuatan kisah kepahlawanan yang banyak dihasilkan di Jawa pada abad ke-11. Karya-karya ini dikatakan mengubah sejarah menjadi mitos, atau sebaliknya mengubah mitos menjadi sejarah. Dalam Hikajat Hang Tuah, nuansa fiktif maupun mitos di antaranya terwakili melalui ketiadaan keterangan waktu dalam setiap peristiwa, kehadiran negeri kayangan yang dipimpin Sang Pertala Dewa maupun perubahan wujud Hang Tuah menjadi harimau dalam sebuah perkelahian (hal 164).
Tokoh Hang Tuah sendiri pun tak bisa dipastikan sebagai tokoh mitos atau sejarah, meskipun dalam Sejarah Melayu (Malay Annals) disebutkan Hang Tuah mati di abad ke-15. Kitab tersebut, Sejarah Melayu-disusun oleh Mansur Shah salah seorang penguasa di Malaka-yang mencantumkan riwayat Hang Tuah pun diragukan oleh berbagai kalangan. Sir Richard Winstedt menyebutkan, Mansur Shah, dalam Sejarah Melayu, mampu mengangkat legenda tentang seorang pejuang bernama Hang Tuah yang tumbuh saat terjadi perang antara Jawa dan Tamil. Akan tetapi, seperti dikatakan di atas, hampir tidak dapat dibedakan yang mana sejarah dan yang mana mitos. Namun, untuk tokoh seperti Hang Tuah, siapa lagi yang peduli bahwa itu mitos atau sejarah selama dia menjadi ilham etika publik?

Minggu, 18 Januari 2009

Ulama Minangkabau : Djalaluddin Thaib (1895 – 1959 M.)

Oleh : Tim Peneliti Fakultas Adab IAIN IB Padang

Jalaluddin Thaib lahir di Balingka, tepatnya di Jorong Subarang pada tahun 1895. Negeri Baiingka dikenal dalam sejarah intelektual Minangkabau sebagai nagari yang banyak melahirkan ulama-ulama besar. Selain Jalatuddin Thaib, Syekh Daud Rasyidi, Haji Abduf Latief dan Mansur Daud Datuk Palimo Kayo juga lahir di Balingka. Ayah Jalaluddin Thaib seorang penghulu adat di jorong Pahambatan Balingka, Haji Muhammad That Datuk Rajo Malintang, namanya. Sedangkan ibunya bemama Siti Zalekha, biasa dipanggit dengan panggilan Rang Gaek.

Gelar ini merupakan gelar sdbagai ungkapan apresiatif masyarakat terhadap seorang wanita di kampung tersebut. Gelar ini merupakan getar kehormatan sebagai jus#iffkasi masyarakat kampung untuk bertanya tentang masalah-masalah perkawinan, kematian dan lain-lain, Rang Gaek di Balingka secara fungsional sama kedudukannya dengan Bundo Kanduang dalam adat Minangkabau.

Jalaluddin Thaib merupakan anak tertua dan tiga orang bersaudara. Dua saudaranya adalah Jannah Thaib dan Azis Thaib. Secara genealogis, beliau memiliki hubungan dengan Syekh Daud Rasyidi dan Haji Abdul Latief. Kedua ulama Minangkabau yang berasal dad Balingka ini adaiah anak paman Jalafuddin Thaib. Syekh Daud Rasyidi bahkan menjadi mertua beliau setelah perkawinannya dengan anak ulama besar ini yang bernama Rasimah Daud dari suku Pili. Masa kecil dihabiskan Jalaiuddin Thaib dikampung halamannya. Pendidikan yang dilaluinya dimulai dari surau yang ada di kampungnya, surau Inyiak Syah yang terletak di jorong Subarang. Kemudian dilanjutkannya berguru pada Syekh Daud Rasyidi dan Syekh Abdul Latief. Dad surau lnyiak Syah dan dad dua orang ulama inilah beliau mendapatkan pengetahuan agama tentang fiqh, ushul fiqh, nahwu; syaraf dan lain-lain. Setelah melewati pendidikan surau dan berguru pada dua ulama diatas, pada tahun 1914 Jalaluddin Thaib berangkat ke Mekkah untuk menambah pengetahuannya tentang agama Islam, clan tentunya sambil menunaikan kewajiban ibadah haji. Mekkah menjadi tujuan untuk menuntut ilmu pada masa itu karena Mekkah lah yang menjadi pusat studi agama Islam. dad Mekkah iniiah Jalaluddin Thaib mendapatkan ide-ide pembaharuan. Setelah kembali ke tanah air, ide-ide yang didapat kannya tersebut kemudian disosialisasikannya. Karena masih merasa kurang dalam ilmu-ilmu keisiaman, setelah kembali ke tanah air Jalaluddin Thaib belajar pada Thaib Umar di Sungayang. Thaib Umar dikenal sebagai ulama besar Minangkabau yang mendirikan madrasah pertama di Batusangkar. Kemudian ia juga berguru pada Haji Rasul (Haji Abdul Karim Amrullah) di surau Jembatan Besi Padang Panjang. Karena kecerdasannya, Haji Rasul mempercayai Jalaluddin Thaib untuk menjadi guru di surau tersebut.
Jalaluddin Thaib mempunyai dua orang istri yaitu Ruayah Rasyad dan suku Pili Datuak Bandaro Sati dan Rasimah Daud. Dad dua istrinya ini, beliau tidak memiliki keturunan. Masa hidupnya dihabiskan .lafaluddin Thaib dalam lapangan pendidi-kan, politik clan sosial keagamaan. Setelah kemerdekaan, Jalaluddin Thaib dianggap sebagai pengikut Belanda. Hat ni membuat ia diasingkan di kampungnya. Karena tidak mendapatkan apresiasi yang baik dad masyarakat kampungnya, ketika terjadi pemberontakan PRRI di Sumatera Barat, Jalaluddin Thaib beserta istrinya Rasimah Daud pergi mengungsi ke Batu Kambing Lubuk Basung. Di Lubuk Basung inilah Jalaluddin Thaib menghabiskan waktunya hingga ia wafat pada tahun 1959 karena sakit.

A. Kiprah Jalaluddin Thaib datam Dunia Pendidikan

Kiprah Jalaluddin Thaib dalam dunia pendidikan berawal dan Surau Jambatan Besi (Sumatera Thawalib Padang Panjang). Disana, bersama Zainuddin Labay pada tahun 1919 beliau mengkoordinir cara¬cara belajar modem. Beliau menetapkan untuk memakai sistem berkelas yang lebih sempuma, pemakaian bangku clan meja, kurikulum dan kewajiban setiap pelajar untuk membayar uang sekolah. Setiap pelajar yang tamat akan diberi ijazah. Semenjak tahun 1920, mata pelajaran umum mulai dlmasukkan dalam kurikulum sekoiah ini. Pemikiran-pemikiran progressif yang dibawa Jalaluddin Thaib ini didapatkannya dad sekolah Befanda yang pemah dimasukinya. Ketika menjadi staff pengajar di Sumatera Thawalib Padang Panjang, apa yang didapatkannya di sekolah Belanda dipadukannya dengan ilmu clan sistem pengetahuan yang didapatlCannya di Mekkah. Karena pandangannya yang visioner dan luas, maka beiiau tercatat dalam sejarah sebagai pendidikan Islam modem. Kecakapannya dalam mengkoordinir Sumatera Thawalib membuat Haji Rasul memberikan kepercayaan kepada Jalaluddin Thaib untuk mendirikan cabang Sumatera Thawalib di Tapak Tuan, Aceh. Jalaiuddin Thaib memimpin Sumatera Thawalib cabang Tapak Tuan Aceh ini hingga tahun 1920. Kemudian pada tahun 1922, Jalaluddin Thaib diberi kepercayaan untuk menjadi ketua perkumpulan Sumatera Thawalib yang salah satu misinya adalah menyatukan Sumatera Thawalib dan cabang¬cabangnya yang pada awalnya berdiri sendiri-sendiri.
Perhatian Jalaluddin Thaib untuk memajukan pendidikan di kampung halamannya juga besar. Hal ini terlihat ketika ia mendirikan Diniyah School di Balingka yang diresmikan oleh Zainuddin Labay pada tanggal 2 Juli 1922. Diniyah School di Balingka ini merupakan Diniyah yang kedua di Minangkabau setelah Padang Panjang. Dengan dibukanya Diniyah School di Balingka ini membuat generasi muda Balingka bisa menikmati sistem pendidikan modem karena selama ini pengetahuan agama hanya didapatkan di suaru. Diniyah School ini merupakan lembaga pendidikan pertama yang didirikan di Balingka. Murid-murid Diniyah School diajarkan berorganisasi. Mereka disatukan dengan masyarakat agar menjadi orang yang respek dan empati terhadap lingkungan. Sekali seminggu, murid-murid Diniyah School ini diutus ke surau-surau dan masjid-¬masjid yang ada di nagari Balingka untuk memberikan ceramah agama. Untuk mengkoordinir kegiatan ini, maka dibentuklah Persatuan Murid-Murid Diniyah School (PMDS), PMDS memiliki lima program kerja, yakni :

1. Taman Bacaan
2. Pertanian
3. Penyiaran agama Islam
4. Kebersihan
5. Commite Perdamaian.

Organisasi Pelajar Diniyah (PMDS) lahir sebenamya juga tidak terlepas dad peristiwa sosial ekonomi, melebarnya jaringan pendidikan, terjadinya urbanisasi, maka muncullah differensiasi kerja Hal ini merupakan faktor yang ikut mempengaruhi PMDS lahir. Selanjutnya, tumbuhnya kesadaran akan harga diri dan kenyataan hidup dibawah dominasi kolonial yang mulai didemonstrasikan oleh perbedaan hak. Disamping itu yang turut mempengaruhi lahirnya PMDS ada{ah adanya berita tentang kebangkitan dunia Timur,2 terutama gerakan reformasi Islam. PMDS yang ddirikan pada tahun 1921 yaitu 6 tahun sesudah berdirinya Diniyah School yang bersifat co¬education oleh Zainuddin Labay el-Yunusiy, pada awalnya bertujuan untuk menggalang persatuan dan kesatuan antar sesama pelajar Diniyah. Karena kondisi Padang Panjang dibawah kekuasaan kolonial, maka para pelajar dianjurkan untuk berorganisasi sebagai "modaf dasar" untuk melawan kolonial Belanda tersebut. Gerakan yang lahir di Timur Tengah telah memberikan pengaruh besar kepada gerakan kebangkitan Islam di Indonesia. Bermula dari pembaharuan pendidikan oleh masyarakat Arab di Indonesia. Kebangkitan Islam semakin berkembang membentuk organisasi sosial keagamaan seperti SDI di Bogor (1909), Muhammadiyah (1912), Nahdlatul Ulama (1926) dan lain-lain.

Pada tahun 1925, Jalaluddin Thaib mendirikan Persatuan Guru Sekolah Agama (PGSA). Organisasi ini mempunyai tujuan untuk membina keterampilan mengajar dan meningkatkan kemampuan guru¬guru sekolah agama yang ada. Karena profesionalitas dan kecakapannya dalam dunia pendidikan ini, maka Jalaluddin Thaib diutus ke Kuala Lumpur untuk menjadi guru disana. Tahun 1928, Jalaluddin Thaib kembali ke Sumatera Thawalib Padang Panjang. Pada waktu itu, lembaga pendidikan yang didirikan oleh Haji Rasul ini telah terkontaminasi oleh ideologi komunis. Para murid-murid Sumatera Thawalib banyak yang menjadikan komunis sebagai referensi favorit. Idiom-idiom revolusi dan perjuangan kelas menjadi idiom yang sangat "familiar" pada waktu itu. Membangun kembali Sumatera Thawalib yang terkontaminasi oleh ideologi komunis dan kehancuran fisik yang diakibatkan gempa bumi tahun 1926, bukanlah pekerjaan mudah. Hal ini dapat dilakukan oleh Jalaluddin Thaib bersama teman-temannya sehingga Sumatera Thawalib dapat kembali menjadi perguruan yang banyak dikunjungi murid-murid Minangkabau bahkan dari luar sebagaimana yang terjadi ketika Sumatera Thawalib pada awai-awal berdirinya.

B. Kiprah Jaialuddin Thaib dalam bidang Sosial Budaya

Apresiasi Jalaluddin Thaib terhadap kondisi sosial budaya diawatinya dengan membentuk Vereeniging Studienfonds Balingka (VSB), sebuah organisasi sosial budaya yang bukan hanya untuk meiayani keper(uan siswa-siswa sekolah saja tetapi juga melayani problematika masyarakat Balingka dalam bidang sosial budaya. Dana pertama yang dikumpulkan oleh VSB diperuntukkan bagi pembangunan gedung Diniyah School pada tahun 1922. Dana tersebut juga diperuntukkan bagi pembangunan jalan dan men-dam jalan pusat nagari Balingka. Jika terjadi musibah, seperti kebakaran misalnya, maka VSB akan "turun tangan" untuk mengkoordinir bantuan bahan¬bahan pokok. Ini pemah dilakukan ketika terjadi kebakaran CU Kota Hilalang. Jasa terbesar yang dirasakan oleh masyarakat Balingka atas kehadiran VSB ini adalah pengadaan air bersih bagi masyarakat. Sebagai penghulu, Jalaluddin Thaib mampu memerankan fungsinya dengan baik sebagai seorang pemimpin yang kharismatis, minimal bagi anak kemenakannya. Di tengah-tengah kesibukannya dalam mengelola dunia pendidikan, Jalaluddin Thaib mampu memberikan perhatian yang cukup besar terhadap kampung halamannya, Baiingka. Perhatian besar dad Jalaluddin Thaib ini membuat suku Sikumbang Datuak Penghulu Basa memberikan gelar Datuk pada Jalaluddin Thaib.

Legitimasi dan justifikasi kultural yang diberikan oleh ninik mamak nagari Balingka Jalaluddin Thaib ini kemudian dimanfaatkannya untuk mengusulkan ide-idenya. Atas usulan Jalaluddin Thaib dibuat kesepakatan diantara ninik mamak nagari Balingka yang isinya antara iain :

1. Ninik mamak menjamin seorang murid bagi tiap-tiap suku sedikitnya satu orang untuk duduk dibangku Diniyah School.
2. Anak-anak perempuan dilarang kawin dibawah umur 15 tahun, lebih-lebih yang masih bersekolah.
3. Dilarang anak-anak keluar dari sekolah sebelum lepas dari Diniyyah School.
4. Ninik mamak memiliki kewajiban untuk mengurus anak-anak yang keluar ketika pelajaran sedang berlangsung.

Kesepakatan yang dibuat oleh ninik mamak ini merefleksikan adanya perhatian yang cukup besar seorang mamak dan institusi ninik mamak terhadap anak kemenakannya. Adanya peraturan yang melarang anak perempuan kawin dibawah usia 15 tahun merupakan peraturan yang untuk konteks zaman tersebut terkesan mendahului "zamannya" dan sangat progressif. Peraturan ini merefleksikan bahwa sosok manusia yang dinamakan "wanita" bukan hanya bekerjd dan berkiprah dibidang-bidang "tradisional" kewanitaan mereka saja seperti mengurus rumah tangga, bukan hanya menjadi manusia "manut' dan "tabu" untuk ikut serta dalam persoalan-persoalan strategis sosial kemasyarakatan. Mereka juga diberi kesempatan untuk menuntut ilmu agar untuk aspek-aspek tertentu mereka "sama" dengan pria serta mereka mampu memfungsikan peranan strategis dad prinsip-prinsip dasar Bundo Kanduang. Ide segar dan orisinil dari Jalaluddin Thaib ini telah menempatkan wanita Balingka menjadi wanita yang "maju" dibandingkan wanita di nagari-nagari sekitar Baiingka pada zaman itu.
Disamping itu, sebagai penghulu Jalaluddin Thaib mendesak agar penjaga adat (penghulu) ikut serta dalam Persa-tuan Sumatera Thawalib yang disampaikannya dalam konperensi Persatuan di Batusangkar pada tanggal 20-21 Mei 1929. Tujuan yang hendak diraih oleh Persatuan Sumatera Thawalib adalah untuk mendidik para pemuda dalam semangat persahabatan, persatuan clan kebangsaan. Walaupun level kiprah sosial budaya Jalaluddin Thaib terkesan bersifat lokalistik, namun gema dan implikasi historisnya sangat besar sekali. Ide-ide segar dan orisinil Jalaluddin Thaib untuk konteks spasial dan temporal masa itu merupakan ide yang brillyan, progressif clan emansipatoris.


C. Kiprah Jalaluddin Thaib dalam bidang Politik
1. Ordonansi Guru

Politik etis yang dilaksanakan Belanda telah membawa implikasi positif dalam pergerakan generasi muda Indonesia. Salah satu organisasi pergerakan yang muncul sebagai implikasi dan politik etis tersebut adalah Muhammadiyah. Organisasi yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada tahun 1921 ini bergerak dalam bidang sosial keagamaan. Organisasi ini menitikberatkan usahanya dalam memajukan pendidikan dengan mendirikan sekalah-sekolah baik yang bercorak umum maupun agama. Maka banyak bermunculan sekolah¬sekolah agama di Indonesia. Melihat fenomena ini, pemerintah Hindia Belanda merasa cemas. Pemerintah kolonial mengkhawatirkan akan terjadi kembali peristiwa CRegon dimana pada tahun 1888 terjadi pemberontakan petani yang dimotori oleh para kyai dan guru agama. Maka pemerintah Belanda melaksanakan kebijakan politiknya dengan memberlakukan ordonansi guru. Ordonansi guru adalah peraturan pemerintah yang mewajibkan setiap guru agama Islam untuk meminta izin terlebih dahulu sebelum melaksanakan tugasnya sebagai guru agama. Kebijakan yang dimulai tahun 1905 ini merupakan usulan dari Snouck Hourgronje pada tahun 1904 setelah ia mempelajari secara cermat peristiwa Cilegon. Snouck Hourgronje mengusulkan agar dilakukan pengawasan terhadap guru-guru agama yang meliputi adanya izin khusus clad Bupati, daftar tentang guru dan murid serta pengawasan tersebut harus dilakukan oleh suatu panitia. Maka pada tahun 1905 keluarlah peraturan ordonansi guru yang pada awalnya beriaku untuk daerah Jawa dan Madura.
Seorang guru agama tidak diizinkan untuk mengajar apabila tidak memperoleh izin dad Bupati. Guru agama yang melanggar akan dihukum maksimum defapan had atau denda maksimum Rp. 25,-. Guru agama yang memberikan pelajaran selain harus minta izin Bupati, ia juga harus menerangkan kepada Pemerintah tentang maksud mereka mengajar. Pemberitahuan ini harus disampaikan dalam formulir khusus yang diberikan kepada kepala pemerintah setempat Guru juga harus membuat daftar murid-murid serta berbagai macam keterangan mengenai kurikufum. Ordonansi ini mendapat reaksi keras dari ummat Islam terutama para praktisi pendidikan. Dalam kongres al-Islam yang dilaksanakan di Bogor dad tanggal 1 s/d 5 Desember 1926 diambil keputusan untuk menolak ordonasi guru ini. Kewajiban memberitahukan kurikulum guru dan murid secara periodik dinilainya sangat memberatkan karena lembaga pendidikan Islam pada umumnya tidak memiliki administrasi dan sarana yang memadai.
Di Minangkabau, pelaksanaan ordonansi guru ini dimulai pada tahun 1928. Pelaksanaan kebijakan ini mendapat tanggapan yang cukup keras dari AR. Sutan Mansur (menantu Haji Rasul) yang berpendapat jika ordonansi guru ditaksanakan di Minang kabau, maka kemerdekaan dalam menyiarkan agama, bertabligh serta apa saja urusan agama akan hilang, dan dengan sendirinya yang berkuasa hanyalah pihak-pihak pemerintah Belanda dengan memakai ulama-ulama yang tidak memiliki pendirian hidup. Jalaluddin Thaib sebagai ketua perkumpulan Sumatera Thawalib Padang Panjang bersama dengan Imran Jamil sebagai sekretaris berusaha keras untuk menentang peraturan tersebut. Dengan mengadakan propaganda kepada ulama-ulama di Minangkabau, mereka mengharapkan ordonansi guru ini ditentang secara kolektif. Hasil yang diperoleh dari propaganda tersebut adalah dengan terbentuknya rapat kecil diantara para ulama besar Minangkabau yang mengambil tempat di Surau Inyiak Jambek. Diantara yang hadir dalam rapat kecil tersebut adalah Haji Jalaluddin Thaib, Syekh Muhammad Siddiq, Haji Abdul Rahman Palupuh, Dr. HAKA (Haji Rasul) dan Syekh Muhammad Jamil Jambek.
Pada tanggal 18 Agustus 1928, bertempat di surau M. Jamil Jambek diadakan Konprensi Ulama Minangkabau yang dihadiri guru¬-guru agama dari kaum tua clan kaum muda. Dr. De Eries clan beberapa pejabat tinggi Belanda menghadiri kenprensi tersebut. Haji Rasul berpidato dengan sangat emosional yang membicarakan tentang bahaya perpecahan diantara ulama-ulama dan ancaman terhadap Islam dan kesimpulannya mereka menerima resolusi yang menolak ordonansi itu. Resolusi ini menyatakan kewajiban semua muslim untuk menyampaikan ajaran agama dan tak ada jalan untuk meng-hindari kewajiban itu. Resolusi ini memperingatkan bahwa guru ordonansi bisa merusak hubungan antara pemerintah dengan masyarakat muslim, juga bisa melemahkan kebebasan beragama karena ordonansi dilihat tidak hanya masalah kebebasan sekolah agama tapi juga sebagai ancaman bagi Islam secara kompre-hensif. Maka konprensi ini memutuskan untuk mengirim utusan delegasi pimpinan agama dan adat ke Batavia yaitu Haji Abdul Madjid dan Singo Mangkuto. Kedua utusan ini berhasil dengan baik dengan diberikannya jawaban oleh Gubernur Jenderal : "Pemerimtah Belanda belum berniat berketetapan hendak menjalankan guru ordonansi di Minangkabau".
Jalaluddin Thaib sebagai seorang tokoh yang menentang ordonansi guru ini, pada tanggal 4 Nopember 1928 di surau Inyiak Jambek mengeluarkan pendapatnya dalam menghadapi ordonansi guru ini. Beliau berpendapat bahwa maksud yang hendak dicapai oleh pemerintah, apapun bentuknya selalu berbuat untuk kerugian orang muslim, oleh karena itu kesatuan diantara guru agama, orang didikan barat dan pemeiihara adat yang asli amat diperlukan. Secara ringkas maksud yang terkandung dalam pemikiran Jalaluddin Thaib adalah apapun yang diperbuat pemerintah Belanda selalu merugikan ummat Islam. Hal ini mungkin sebagai manifestasi dad politik Kristenisasi di Indonesia dan Minangkabau. Salah satu misi pemerintah Belanda menjajah Indonesia adalah melaksanakan Kristenisasi, sementara tanah jajahan yang mereka temui mayoritas beragama Islam. Pemerintah Belanda berusaha menekan posisi ummat Islam baik dalam bidang sosial budaya, pendidikan, politik maupun ekonomi. Karena untuk menyebarkan agama Kristen pada penduduk yang telah beragama tidaklah begitu memungkinkan. Maka untuk menghadapi politik pemerintah Belanda tersebut perlu dibentuk tiga golongan masyarakat untuk membina persatuan dan kesatuan dalarn beragama yaitu : pertama, golongan guru-guru dan aiim ulama, kedua, golongan terpelajar dan yang kefiga adalah golongan adat. Ketiga golongan tersebut harus memikirkan clan merenungkan sedalam-dalamnya bahwa mereka harus bersatu dan menyadari bahwa mereka sama-sama anak jajahan. Pada saat konperensi, selain menghasilkan keputusan-keputusan diatas, konprensi tersebut juga telah membentuk kepengurusan sebagai berikut :

Ketua : H. Abdul Madjid (Maninjau)
Wakil Ketua : H. Jalaluddin Thaib (Bukitinggi)
Sekretaris : H. Emran Jamil (Padang Panjang)
Penasehat : H.M.S. Sukiman (Bukittinggi)
Komisaris : Adam (Pasar Baru Padang Panjang)
H. Said (Batusangkar)
Besar Bandaro (Padang Panjang)
Sutan Sampono (Payakumbuh)


Dengan dibentuknya persatuan Islam ini berarti perhatian tokoh-tokoh Islam untuk membela ummat Islam Minangkabau sangat besar sekali dan Jalaluddin Thaib sebagai salah seorang tokoh yang membela ummat Islam dan menentang pelaksanaan guru ordonansi tersebut telah mengeluarkan pemikirannya untuk persatuan ummat Islam dalam menghadapi pemerintah kolonial Belanda.


2. Permi

Dengan berdirinya Sumatera Thawalib Padang Panjang yang di-embrio-i oleh surau Jamabatan Besi, maka hal ini diikuti oleh surau¬surau 1ain. Sebagai organisasi sekolah, Sumatera Thawalib terus berkembang. Ketika Udin Rahmani dad Mekkah, ia bersama-sama temannya mengangkatkan konprensi Sumatera Thawalib di Ppdang Panjang dan berhasil merumuskan anggaran dasar organisasi dengan asas Islam dan tujuan untuk ekspansi pengajaran Islam dalam rangka untuk memeiihara dan menghidupkan jiwa dan semangat Islam. Setelah konprensi tahun 1928 tersebut, 5umatera Thawalib memperlihatkan perkembangan yang cukup pesat terutama setelah kepulangan alumni-alumni Sumatera Thawalib dad perantauan seperti Hasyim Husni dari Surabaya, Ilyas Ya'cub dad Mesir clan lain-lain. Hasyim yang sewaktu berada di Surabaya ikut bergabung dengan study club yang dipimpin oleh Dr. Soetomo. Kemudian Ilyas Ya'cub ketika berada di Mesir ikut dalam dalam pengkaderan partai Hisbul Wathan yang dipimpin Mustafa Kemal da banyak melihat gerakan pembaharuan dan kebangsaan yang terjadi di Mesir.
Apa yang telah mereka lihat dan mereka saksikan, kemudian mereka kemukakan pada konprensi Sumatera Thawalib di Batusangkar pada tanggal 20-21- 1929. Konprensi ini lebih mengarah kepada politik karena telah mulai membicarakan masalah pemerintah kolonial yang mendukung penguasa adat. Duski Samad kemudian mengemukakan agar skop Sumatera Thawalib lebih diperluas menjadi organisasi untuk rakyat Indonesia seluruhnya. Perkembangan Sumatera Thawalib mencapal klimaksnya pada konprensi ketiga Sumatera Thawalib pada tanggal 20-21 Mei 1930. Konprensi ini adalah fase transformasi Sumatera Thawalib berubah menjadi Persatuan Muslimin Indonesia (PMI) yang kemudian lebih dikenal dengan Permi. Dengan memakai skop Indonesia, berarti terobosan baru bagi suatu organisasi lokal. Permi terbuka untuk umum, tidak hanya untuk orang Minangkabau tapi juga untuk orang yang berasal dad luar Minangkabau. Permi juga tidak hanya untuk alumni Sumatera Thawalib saja tapi juga dad sekolah atau organisasi lain. Keterbukaan Permi terlihat dari susunan pengurus yang bukan hanya berasal dari "kaum muda" tapi juga dad kelompok "kaum tua". Susunan pengurus Permi tersebut yaitu :


Ketua : H. Abdul Madjid
Wakil Ketua : Iljas Ya'cub
Sekretaris : Mansur Daud
Bendahara : H. Suaib al-Yutusi
Dept. Pendidikan : Afi Imran Jamil
Dept. Perusahaan : Hasyim al-Husni
Dept. Kepanduan : A. Gafar Ismail
Dept. Propaganda : Rasul Hamidi

Peranan yang dimainkan oleh Jalaluddin Thaib dalam Permi dimulai dad konprensi Sumatera Thawalib yang diadakan pada tahun 1928. la menjabat sebagai ketua dan Persatuan Sumatera Thawalib. Pada kongres kedua ia juga menjabat sebagal ketua. Kongres kedua ini lebih mengarah ke wilayah politik karena telah mengangkat issu-issu kolonial. Sebagai penghulu adat, Jalaluddin Thaib mendesak para penjaga adat untuk Rut serta dalam Persatuan Sumatera Thawalib. Jalaluddin Thaib mengusulkan hal ini karena Sumatera Thawalib merupakan satu-satunya organisasi yang menyeluruh anggotanya dan tidak terbatas pada satu golongan atau level saja.
Jalaluddin Thaib kemudian bergabung dengan Permi pada tahun 1931 dan duduk dalam kepengurusan Permi sebagai wakil ketua. la langsung diberi jabatan karena ia adalah seorang guru yang berpengalaman dan dikenal juga sebagai penulis yang produktif. Pada tahun 1931 tepatnya bulan Maret, Jafaluddin Thaib memperbaiki hierarki organisasi dengan formasi Dewan Eksekutif Harian untuk mengarahkan dan mengkoordinir kegiatan harian. Kepengurusan badan yang dibentuk terdiri clad Haji Abdul Madjid, Haji Jalaluddin Thaib, Haji iryas Ya'cub, Haji Mansur Daud, clan Haji Syuaib ai-Yutusi. Karena pengalaman clan "jam terbang" dalam dunia pendidikan sangat tinggi, maka Jalaluddin Thaib diberi jabatan yang cukup menentukan dalam Permi. Sejak tahun 1931, Jalaiuddin Thaib secara operasional administrasi telah "mengambil alih" kepemimpinan harian Permi dad tangan Haji Abdul Madjid karena kesehatan Abdul Madjid tidak memungkinkan untuknya untuk berbuat secara maksimal bagi Permi. Jalaluddin Thaib mampu menyerasikan antara orang¬orang yang baru kembali dari Kairo Mesir dengan tamatan Sumatera Thawalib. Adanya perpaduan diantara pelajar-pelajar tamatan Sumatera Thawalib Padang Panjang dengan tamatan-tamatan Timur Tengah telah membuat Permi menjadi partai besar yang disegani lawan maupun kawan.
Pada bulan Januari 1932, Permi mengambil langkah pertamanya ke arah keterlibatannya dalam pergerakan kemerdekaan nasional. Permi mengirim satu delegasi ke Kongres Raya Indonesia yang disponsori oleh PPKI (Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia) di Surabaya. Walaupun kongres ini gagal, namun delegasi Permi yang terdiri dari Jalaluddin That dan Baso Bandaro menggunakan kesempatan untuk membentuk hubungan baik dengan Ir. Soekamo dan Dr. Soetomo. Meskipun Permi tidak ikut serta daiam federasi tersebut, tapi ia menggunakan partisipasinya dalam Kongres Indonesia Raya sebagai propaganda di Minang kabau. Permi ingin menyelesaikan konflik antara partai Islam dan kebangsaan clan mereka takut dengan ikut PPKI akan menimbulkan kecurigaan pandangan partai-partai Islam dan pandangan partai sekuler.
Setelah selesai kongres di Surabaya, Jalaluddin Thaib menulis sebuah buku kecil yang berjudul Peringatan Nasional. Beliau menyatakan bahwa PPKI pada akhirnya akan berhasil dalam mencapai tujuannya yakni penggabungan semua partai nasional. Tapi untuk Permi butuh waktu untuk meluaskan dan mengembangkan dirinya sendiri, dan langkah awalnya adalah mempelajari federasi tersebut dari dekat. Peringatan yang diberikan Jalaluddin Thaib dapat dimengerti karena belum ada organisasi Islam yang bergabung dengan federasi tersebut. Pemikiran yang dikemukakan Jalaluddin Thaib adalah pemikiran seorang juru pendamai yang tidak menginginkan Permi bergabung dengan PPKI yang merupakan gabungan dari partai partai nasionalis seluruhnya Sedangkan Permi merupakan Partai Islam.
Andaikan Permi bergabung dengan PPKI, golongan Islam akan lebih memusuhi Permi, begitu juga golongan sekuler. Tidak bergabungnya Permi ke dalam PPKI telah menempatkan Permi ditengah-tengah antara golongan Islam dengan Partai Nasionalis. Hal yang demikianlah yang menyebabkan nama Permi makin dikenal oleh partai-partai lain. Untuk menanamkan kesadaran politik dikalangan generasi muda, maka pada bulan September 1932, Permi meningkatkan program politiknya dengan mendirikan departemen khusus untuk propaganda eksternal clan khusus politik partai, Jalaluddin Thaib bersama dengan Ilyas Ya'cub duduk sebagai pimpinan. Departemen ini meluaskan operasinya supaya memeriahkan semangat kemerdekaan nasional. Perjalanan gemilang telah ditempuh oleh Permi. Tapi perjalannya harus diikuti dengan pengorbanan para tokoh-tokoh nya. Dimulai dari penangkapan sang-srikandi Permi, Rasuna Said, kemudian diikuti dengan penangkapan tokoh yang lain. Jalaluddin Thaib ditangkap pada tanggal 7 September 1933 clan dimasukkan ke penjara Padang bersama dengan Ilyas Ya'cub. Setelah meringkuk beberapa hari di penjara Padang, ia dipindahkan ke Tanah Merah (Pulau Digul) bersama dengan Muchtar Lutfie dan Ilyas Ya'cub. Alasan yang dikenakan pada Jalaluddin Thaib oleh pemerintah koloniat Belanda adalah :

1. Bahwa Jalaluddin Thaib sudah melakukan aksi-aksi politik dalam suatu Opembar Vergadring yang didalam kenyataannya keadaan yang merubuhnya dengan teratur atas kekuasaan pemerintah dan kemudian juga menyebarkan kebencian terhadap pemerintah Belanda.

2. Jalaluddin Thaib bersama dengan pengurus-pengurus lainnya kira-kira penghabisan bulan Agustus 1933 sudah mencoba melakukan tipu daya atas beslit Gubernement terhadap larangan Vergandring yang berlaku kepada Permi dan PSII. Di Minangkabau dan Tapanuli yaitu dengan jalan menge[uarkan satu majalah untuk propaganda yang bernama majalah "Maju".


3. Jalaluddin Thaib sudah bersedia untuk mempertanggungjawabkan atas isi karangan yang bersifat menghasut yang berkepala "Politik cap rakyat Indonesia sengsara" yang teruntuk buat pemerintah, pertama dad majalah Maju tanggal 5 September 1934.

Penangkapan-penangkapan yang dilakukan terhadap tokoh¬tokoh Permi dengan sendirinya membuat Permi secara berangsur¬angsur goyah dan pada gilirannya menjadi hancur. Penagkapan terhadap tokoh-tokoh Permi merupakan pukulan hebat bagi eksistensi organisasi ini. Pada tahun 1936, karena pemerintah kolonial Belanda mencurigai Permi masih melaksanakan aktifitas-aktifitas politik yang radikal, maka Permi dibubarkan.

D.3. Pasca Kemerdekaan
Pada tanggal 18 Agustus 1945, sejumlah pemuda di kota Padang mengadakan pertemuan rahasia yang bertempat di rumah Abdul Muluk di Alang Laweh. Pertemuan ini bersifat konsultasi untuk meyakinkan did tentang disiarkannya Proklamasi Kemerdekaan RI, serta untuk menentukan sikap yang terbaik. Pada tanggal 29 Agustus 1945 dilanjutkan rapat di Pasar Gadang, Padang yang kemudian berhasil membentuk organisasi yang diberi nama dengan "Balai Penerangan Pemuda Indonesia (BPPI)" dengan susunan pengurus sebagai berikut :


Ketua I : Ismail Lengah
Ketua II : Sulaiman
Setia Usaha : Nasrun HS dan Jahja Djalil
Bendahara : Dahlan J. Sutan Mangkuto
Perbekalan : Iljas Ja’coub
Keamanan : Burhanuddin
Penerangan : Ahmad Roesdi
Koordinator : Kasim Dt. Malilit Panjang

Perhubungan : 1. Syarief Utsman
2. Bagindo Azis Chan
3. Chatib Sulaiman
4. Mr. Nazaruddin

Kesehatan : Dr. Nazaruddin
Pembantu : 1. Muchtar Thaib
2. Jamaluddin
3. H. Hasan
4. Djazid Abidin
5. Syarief Ghani
6. Bagindo Thahar
7. Mahyuddin.

BPPI bertugas memberikan pengarahan dan penjelasan yang berhubungan dengan perjuangan yang akan dilakukan selanjutnya sesudah Indonesia memproklamirkan kemer-dekaannya. Ketika tentara Sekutu (pasca diproklamirkan kemerde-kaan Republik Indonesia) mendarat di Indonesia clan sibuk melucuti senjata Jepang, maka orang¬orang Belanda yang berkedok NICA sibuk membujuk masyarakat agar mau bekerjasama dengan mereka kembali. Sebagai kompensasi apabila mau bekerjasama, Belanda menjanjikan hadiah serta pangkat yang tinggi. Salah seorang tokoh masyarakat yang terpengaruh akan bujuk rayu NICA tersebut adalah Jalaluddin Thaib. Jalaluddin Thaib kemudian diangkat menjadi Groot Major Belanda. Oleh-teman ¬temannya dtantaranya Moechtar Thaib, Jalaluddin Thaib kemudian dibawa menemui Ismail Lengah untuk mendiskusikan mengenai masalah bangsa dan mendiskusikan mengenai keberpihakannya kepada Belanda. Setefah bertemu dengan Ismail Lengah, Jalaluddin Thaib tetap tidak bisa mengikuti pendapat teman-temannya tersebut. Jalaluddin Thaib tetap tidak mampu menghayati perjuarrgan teman¬temannya dalam mempertahankan kemerdekaan, Jalaluddin Thaib tetap berpihak kepada NICA. Karena Jalaluddin That tetap bersikukuh membela NICA tersebut, ia kemudian terpaksa ditahan oleh teman¬temannya dan diasingkan ke Batusangkar.
Alasan apapun yang digunakan oleh Jalaluddin Thaib yang bekerjasama dengan Belanda telah menyebabkan beliau diasingkan dan dicap sebagai pengkhianat bangsa oleh masyarakat di kampung halamannya. Ketika terjadi Pemberon-takan PRRI di Sumatera Barat, Jalaluddin Thaib tidak diizinkan mengungsi ke kampungnya, Balingka. Maka ia bersama keluarga nya terpaksa mengungsi ke Batu Kambing Lubuk Basung dan beliau wafat disana. Jenazahnya kemudian dikuburkan di Batu Kambing tersebut, tidak dibawa ke kampung halamannya, Balingka.


Karya Tulis

Pada umumnya karya Jalaluddin Thaib berbentuk buku-yang dikarangnya ketika beliau masih menjadi guru di Padang Panjang. Buku-buku tersebut antara lain :

1. Tentang Bahasa Arab, yang berisikan tentang seluk beluk tata bahasa Bahasa Arab terutama Nahwu dengan bahasa pengantamya bahasa Melayu.
2. Tingkatan-Bahasa-Arab
3. Tafsir al-Munir
4. Pengasuh Anak-Anak Kepada Agama Islam
5. Pembuka Pintu Kemajuan
6. Semangat Jilid I
7. Semangat Jilid II
8. Peringatan Nasional

Kaum Datuak.
Datuak-datuak Kepala Suku

Tambo merupakan kisah yang meriwayatkan tentang asal usul dan kejadian masa lalu yang terjadi di Minangkabau. Tambo bukan catatan sejarah yang harus dibuktikan dengan fakta-fakta yang akurat, tahun kejadian serta siapakah yang melakukan penemuan. Namun bila dikaitkan dengan suatu bukti keberadaan, maka bukti itu ada dan nyata. Tambo tidak memerlukan sistematika tertentu, sebagaimana halnya sejarah. Cara mengisahkannya disesuaikan dengan keperluan dan keadaan. Tambo bisa pula mengkisahkan sejarah bangsa lain.

Terdapat dua jenis tambo yang menjadi tonggak adat dan budaya minangkabau yang hidup hingga masa kini, yaitu : Tambo alam, yang mengisahkan asal usul nenek moyang, serta mengolah alam sebagai pilar dalam membangun sistem kemasyarakatan ,

Tambo adat, pengajaran akal dan budi, yang dikisahkan bahwa segala sesuatu yang harus dipatuhi dalam pola prikelakuan yang normative, mencakup segala cara-cara atau pola berfikir, cara bertindak yang akhirnya membentuk struktur social masyarakat atau sistem kekuasaan minangkabau pada masa lalu dan berlaku sebagai adat yang tidak lekang karena panas dan tidak lapuk karena hujan.. Untuk ukuran masa sekarang, maka Tambo dapat dikatakan sebagai informasi budaya yang spektakuler.

Bagi masyakakat minang, kisah asal usul suku bangsa minang yang dinukilkan dalam kaba maupun tambo, sebagai realitas dalam pertumbuhan adat dan budaya minangkabau kuno. Walaupun, sumber informasi yang ada tentang keminangkabauan itu, merupakan ornamen mitologi, yaitu mengkisahkan asal usul dan migrasi suku bangsa minang kabau secara fiksi (dongeng), namun ia tetap hidup hingga sekarang. Sebut saja pantun yang berbunyi, seperti ini : Dimana mulanya terbit pelita Dibalik tanglun nan berapi Dimana mulanya ninik kita Ialah di puncak gunung Merapi

Bagaimana caranya kita mencari pembenaran, bahwa ternyata kaba dan tambo itu merupakan realitas dalam pertumbuhan adat dan budaya Minangkabau untuk masa sekarang ? Bukankah sesuatu yang diceritakan, oleh si tukang kaba dahulu (minangkabau kuno), merupakan informasi yang tidak seragam, yang menimbulkan keragu-raguan ?.

Berpijak dari konsep antropologi, khususnya antroplogi sosial yang mempelajari prilaku dan hasil kerja manusia, seperti ; sistem politik dan ekonomi, struktur kekerabatan, tatacara perkawinan, kesenian dan kesusastraan, dll, maka kaba dan tambo dapat dijadikan referensi terhadap asal usul manusia, asal usul adat dan budaya minang kabau. ? Dengan demikian, maka benarlah tambo merupakan hasil kerja imajinasi spektakuler dari nenek moyang minang kabau, yang telah mengatur dan menetapkan falsafah hidupnya dengan berguru kepada alam, kemudian menetapkan pola kekuasaan (bukan pemerintahan, pen) yang demokratis, pemimpin nagari yang bersifat kolektif, system ekonomi, , undang-undang dan hukum, , lembaga perkawinan, harta dan pusaka, termasuk sastra dan permainan rakyat.

Jika dikatakan etnis minangkabau sebagai subyek kebudayaan, maka konsep adatnya yang tidak lekang oleh panas dan tidak basah karena hujan tadi, tidak lain adanya kesadaran masyarakat bahwa dalam mempertahankan adat dan budaya, mereka tidak menjadikan sebagai pelengkap saja. Mereka menselaraskan dengan norma-norma agama, sehingga kehidupan beradat dan berbudaya mereka berpijak pada konsepsi adat bersendi syara, dan syara, bersendi kitabullah.

Kembali pada uraian diatas, meskipun banyak mitologi dari kaba atau tambo yang mesti diungkap sebagai fakta sejarah – para ahli sejarah telah mengupas bahwa nama (suku bangsa) Minangkabau berasal dari “ Pinang Khabu “ sebagai country origin (tanah asal), demikian pendapat – Ven der Tuuk. Demikian juga dalam menon khabu, yang artinya tanah mulia atau mau angka bahu, yang artinya yang memerintah, dalam kupasan para penulis sejarah, seperti DR. Hussein Nainar atau M. Rasyid Manggis. Seorang penulis Tuanku Rao, juga menyampaikan bahwa nama minangkabau itu berasal dari sebuah kampung kecil yang ada di pedalaman minangkabau itu sendiri. Lain lagi informasi disebuah media cetak,asal nama Minangkabau, berasal dari bahasa arab, yaitu ALMINANKA KANABAUWIYAH(pemerintahan cara nabi. Jika hal ini bisa dibenarkan, tidak lain bahwa Islam sudah masuk ke Minangkabau pada abad ke 8, ketika pedagang Arab dan India berdatangan ke wilayah ini untuk berdagang dan menyiarkan agama. Pada saat Islam masuk, terdapat kurun waktu yang panjang saat mulai berkuasanya Raja Adityawarman – t ia telah memindahkan pusat kerajaannya ke Pagaruyung. Sumber:
http://blogippmi.wordpress.com/category/sejarah/

Datuak-datuak Kepala Suku Tambo merupakan kisah yang meriwayatkan tentang asal usul dan kejadian masa lalu yang terjadi di Minangkabau. Tambo bukan catatan sej...arah yang harus dibuktikan dengan fakta-fakta yang akurat, tahun kejadian serta siapakah yang melakukan penemuan. Namun bila dikaitkan dengan suatu bukti keberadaan, maka bukti itu ada dan nyata. Tambo tidak memerlukan sistematika tertentu, sebagaimana halnya sejarah. Cara mengisahkannya disesuaikan dengan keperluan dan keadaan. Tambo bisa pula mengkisahkan sejarah bangsa lain. Terdapat dua jenis tambo yang menjadi tonggak adat dan budaya minangkabau yang hidup hingga masa kini, yaitu : Tambo alam, yang mengisahkan asal usul nenek moyang, serta mengolah alam sebagai pilar dalam membangun sistem kemasyarakatan , Tambo adat, pengajaran akal dan budi, yang dikisahkan bahwa segala sesuatu yang harus dipatuhi dalam pola prikelakuan yang normative, mencakup segala cara-cara atau pola berfikir, cara bertindak yang akhirnya membentuk struktur social masyarakat atau sistem kekuasaan minangkabau pada masa lalu dan berlaku sebagai adat yang tidak lekang karena panas dan tidak lapuk karena hujan.. Untuk ukuran masa sekarang, maka Tambo dapat dikatakan sebagai informasi budaya yang spektakuler. Bagi masyakakat minang, kisah asal usul suku bangsa minang yang dinukilkan dalam kaba maupun tambo, sebagai realitas dalam pertumbuhan adat dan budaya minangkabau kuno. Walaupun, sumber informasi yang ada tentang keminangkabauan itu, merupakan ornamen mitologi, yaitu mengkisahkan asal usul dan migrasi suku bangsa minang kabau secara fiksi (dongeng), namun ia tetap hidup hingga sekarang. Sebut saja pantun yang berbunyi, seperti ini : Dimana mulanya terbit pelita Dibalik tanglun nan berapi Dimana mulanya ninik kita Ialah di puncak gunung Merapi Bagaimana caranya kita mencari pembenaran, bahwa ternyata kaba dan tambo itu merupakan realitas dalam pertumbuhan adat dan budaya Minangkabau untuk masa sekarang ? Bukankah sesuatu yang diceritakan, oleh si tukang kaba dahulu (minangkabau kuno), merupakan informasi yang tidak seragam, yang menimbulkan keragu-raguan ?. Berpijak dari konsep antropologi, khususnya antroplogi sosial yang mempelajari prilaku dan hasil kerja manusia, seperti ; sistem politik dan ekonomi, struktur kekerabatan, tatacara perkawinan, kesenian dan kesusastraan, dll, maka kaba dan tambo dapat dijadikan referensi terhadap asal usul manusia, asal usul adat dan budaya minang kabau. ? Dengan demikian, maka benarlah tambo merupakan hasil kerja imajinasi spektakuler dari nenek moyang minang kabau, yang telah mengatur dan menetapkan falsafah hidupnya dengan berguru kepada alam, kemudian menetapkan pola kekuasaan (bukan pemerintahan, pen) yang demokratis, pemimpin nagari yang bersifat kolektif, system ekonomi, , undang-undang dan hukum, , lembaga perkawinan, harta dan pusaka, termasuk sastra dan permainan rakyat. Jika dikatakan etnis minangkabau sebagai subyek kebudayaan, maka konsep adatnya yang tidak lekang oleh panas dan tidak basah karena hujan tadi, tidak lain adanya kesadaran masyarakat bahwa dalam mempertahankan adat dan budaya, mereka tidak menjadikan sebagai pelengkap saja. Mereka menselaraskan dengan norma-norma agama, sehingga kehidupan beradat dan berbudaya mereka berpijak pada konsepsi adat bersendi syara, dan syara, bersendi kitabullah. Kembali pada uraian diatas, meskipun banyak mitologi dari kaba atau tambo yang mesti diungkap sebagai fakta sejarah – para ahli sejarah telah mengupas bahwa nama (suku bangsa) Minangkabau berasal dari “ Pinang Khabu “ sebagai country origin (tanah asal), demikian pendapat – Ven der Tuuk. Demikian juga dalam menon khabu, yang artinya tanah mulia atau mau angka bahu, yang artinya yang memerintah, dalam kupasan para penulis sejarah, seperti DR. Hussein Nainar atau M. Rasyid Manggis. Seorang penulis Tuanku Rao, juga menyampaikan bahwa nama minangkabau itu berasal dari sebuah kampung kecil yang ada di pedalaman minangkabau itu sendiri. Lain lagi informasi disebuah media cetak,asal nama Minangkabau, berasal dari bahasa arab, yaitu ALMINANKA KANABAUWIYAH(pemerintahan cara nabi. Jika hal ini bisa dibenarkan, tidak lain bahwa Islam sudah masuk ke Minangkabau pada abad ke 8, ketika pedagang Arab dan India berdatangan ke wilayah ini untuk berdagang dan menyiarkan agama. Pada saat Islam masuk, terdapat kurun waktu yang panjang saat mulai berkuasanya Raja Adityawarman – t ia telah memindahkan pusat kerajaannya ke Pagaruyung. Sumber: http://blogippmi.wordpress.com/category/sejarah/