Jumat, 31 Januari 2014

Kisah Sahabat Nabi | SHAFIYYAH BINTI HUYAI


SHAFIYYAH BINTI HUYAI -radhiallaahu ‘anha-
Beliau adalah Shafiyyah binti Huyai binti Akhthan bin Sa’yah cucu dari Al-Lawi bin Nabiyullah Israel bin Ishaq bin Ibrahim a.s,termasuk keturunan Rasulullah Harun a.s.Shafiyyah adalah seorang wanita yang cerdas dan memiliki kedudukan yang terpandang,berparas cantik dan bagus diennya.Sebelum Islamnya beliau menikah dengan Salam bin Abi Al-Haqiq,kemudian setelah itiu dia menikah dengan Kinanah bin Abi Al-Haqiq.Keduanya adalah penyair yahudi.Kinanah terbunuh pada waktu perang Kkaibar,maka beliau termasuk wanita yang di tawan bersama wanita-wania lain.Bilal”Muadzin Rasululllah “  menggiring Shafiyyahdan putri pamannya.mereka meleweti tanah lapang yang penuh dengan mayat-mayat orang Yahudi.Shafiyyah diam dan tenang dan tidak kelihatan seduh dan tidak pula meratap mukanya,menjerit dan menaburkan pasir pada kepalanya.
Kemudian keduanya dihadapkan kepada Rasulullah saw,Shafiyyah dalam keadaan sedih namun tetap diam,sedangkan putri pamanya kepalanya penuh pasir,merobek bajunya karena maresa belum cukup ratapannya.Maka Rasulullah saw bersabda:Sedangkan tersirat rasa tidak suka pada wajah beliau:
“Enyahkanlah syetan ini dariku.”
Kemudian beliau saw mendekati Shafiyyah kemudian mengarahkan pandangan atasnya dengan ramah dan lembut,kemudian bersabda kepada Bilal:
“Wahai Bilal aku berharap engkau mendapat rahmat tatkala engkau bertemu dengan dua orang wanita yang suaminya terbunuh.”
Selanjutnya Shafiyyah dipilih untuk beliau dan beliau mengulurkan selendang belieu kepada Shafiyyah,hal itu sebagai pertandan bahwa Rasulullah saw telah memilihnya untuk dirinya.Hanya kaum muslimin tidak mengetahui apakah Shafiyyah di ambil oelh Rasulullah sebagai istri atau sebagai buadak atau sebagai anak ?Maka tatkala beliau berhijab Shafiyyah,maka barulah mereka tahu bahwa Rasulullah saw mengambilnya sebagai istri.Di dalam hadist yang diriwayatkan oleh Anas r.a bahwa Rasulullah tatkala mengambil Shafiyyah binti Huyai belaiu bertanya kepadanya,”Muakah engkau menjadi istriku?”Maka Shafiyyah menjawab,”Ya Rasulullah sungguh aku telah berangan-angan untuk itu tatkala masih musyrik,maka bagaimana mungkin aku tidak inginkan hal itu manakala Allah memungkinkan itu saat aku memeluk Islam ?”
Kemudian tatkala Shafiyyah telah suci Raslullah saw menikahinya,sedangkan maharnya adalah merdekanya Shafiyyah .Nabi saw menanti sampai Khaibar kembali tenang.Setalah Setelah beliau perkirakan rasa takut telah hilang pada siri Shafiyyah,beliau mengajaknya pergi Shafiyyah yang beliau bawa di belakang beliau,kemudian beranjak menuju ke sebuah rumah yang berjarak enam mil dari Khaibar.Nabi saw menginginkan diri Shafiyyah ketika itu,namun dia  menolaknya.Ada rasa kecewa padadir Nabi karena penolakan tersebut.
Kemudian Rasulullah saw melanjutkan perjalanannya ke Madinah bersama bala tentaranya,tatkala mereka sampai di Shabba’jauh dari Khaibar mereka berhenti untuk beristirahat.Pada saat itulah timbul keinginan untuk merayakan walimatul ‘urs.Maka didatangkanlah Ummu Anas bin Malik r.a,beliau menyisir rambut Shafiyyah,menghiasi dan memberi wewangian hingga karena kelihaian dia dalam merias,Ummu Sinan Al-Aslamiyah berkata bahwa beliau belum pernah melihat wanita yang lebih putih dan cantik dari Shafiyyah.Maka diadakanlah walimatul ‘urs,maka kaum muslimin memakan lezatnya kurma,mentega,dan keju Khaibar hingga kenyang.Rasulullah saw mask kekamar Shafiyyah sedangkan masih terbayang pada beliau penolakan Shafiyyah tatkala ajakan beliau yang pertama,maka Shafiyyah menerima Nabi untuk menjalani manjalani malam pertam dengan lembut beliau menceritakan sebuah cerita yang menakjubkan.Beliau bercerita bahwa tatkala malam pertamanya dengan Kinanah bin Rabi’,pada malam itu beliau bermimpi bahwa bulan telah jatuh kekamarnya.Tatkala bangun belaiu ceritakan hal itu kepada Kinanah.maka dia berkata dengan marah:”Mimpimu tidak ada takwil lain melainkan kamu berangan-angan mendapatkan raja Hijaz Muhammad.Maka dia tampar wajahnya beliau dengan keras sehingga bekasnya masih ada,Nabi saw mendengarnya sambil tersenyum kemudian bertanya,”Mengapa engaku menolak dariku tatkala kita menginap yang pertama?”Maka beliau menjawab,’Saya khawatir terhadap diri anda karena dekat Yahudi .Maka menjadi berseri-serilah wajah Nabi yang mulia serta lenyaplah kekecewaan hatinya maka Nabi melewati malam pertamanya tatkala Shafiyyah berumur 17 tahun.
Tatkala rombongan sampai di Madinah Rasulullah perintahkan agar pengantin wanita tidak langsung di ketemukan dengan istri-istri beliau yang lain.Beliau turunkan Shafiyyah di rumah sahabatnya yang bernama Haritsah bin Nu’man.Ketika wanita-wanita Anshar mendengar kabat tersebut ,mereka datang untuk melihat kecantikannya.Nabi saw memergoki ‘Aisyah keluar sambil menutupi dirinya serta berhati-hati (agar tidak dilihat Nabi) kemudian beliau masuk kerumah Haritsah bin Nu’man .Maka beliau menunggunya sampai ‘Aisyah keluar.Maka tatkala beliau keluar,Rasulullah memegang bajunya seraya bertanya dengan tertawa,”bagaimana menurut mendapatmu wahai yang kemerah-merahan?”‘Aisyah menjawab sementara cemburu menghiasi dirinya,”Aku lihat dia adalah wanita Yahudi.”Maka Rasulullah saw membantahnya dan bersabda:
“Jangan berkata begitu….karena sesungguhnya dia telah Islam dan bagus keislamannya.”
Selajutnya Shafiyyah berpindah ke rumah Nabi menimbulkan kecemburuan istri-istri beliau yang lain karena kecantikannya.Mereka juga mengucapkan selamat atas apa yang telah beliau raih.Bahkan dengan nada mengejek mereka mengatakan bahwa mereka adalah wanita-wanita Quraisy,wanita-wanita Arab sedangkan dirinya adalah wanita asing.
Bahkan suatu ketika sampai keluar dari lisan Hafshah kata-kata ,”Anak seorang Yahudi “hingga menyebabkan beliau menangis .Tatkala itu Nabi masuk sedangkan Shafiyyah masih dalam keadaan menangis.Beliau bertanya,”Apa yang membuatmu menangis?”Beliau menjawab,Hafshah mengatakan  kepadaku bahwa aku adalah anak seorang Yahudi.Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnys engkau adalah seorang putri seorang Nabi dan pamanmu adalah seorang Nabi,suamipun juga seorang Nabi lantas dengan alasan apa dia mengejekmu ?”Kemudian beliau bersabda kepada Hafshah,”Bertakwalah kepada Allah wahai Hafshah!”
Maka kata-kata Nabi itu menjadi penyejuk,keselamatan dan keamanan bagi Shafiyyah.Selanjutnya manakala dia mendengar ejekan dari istri Nabi yang lain maka diapun berkata:”Bagaimana bisa kalian lebih baik dariku,padahal suamiku adalah Muhammad ,ayahku adalah Harun dan pamanku adalah Musa?”
Shafiyyah r.a wafat tatkala berumur sekitar 50 tahun,ketika masa pemerintahan Mu’awiyah.Beliau dikuburkan di Baqi’ bersama Ummuhatul Mukminin.Semoga Allah meridhai mereka semua.

Kisah Sahabat Nabi | MAIMUNAH BINTI AL-HARITS


MAIMUNAH BINTI AL-HARITS
Dialah Maimunah binti al-Harits bin Huzn bin al-Hazm bin Ruwaibah bin Abdullah bin Hilal bin Amir bin Sha’sha’ah al-Hilaliyah. Saudari dari Ummul Fadhl istri Abbas.  Beliau adalah bibi dari Khalid bin Walid dan juga bibi dari Ibnu Abbas.
Beliau termasuk pemuka kaum wanita yang masyhur dengan keutamaannya, nasabnya dan kemuliaannya. Pada mulanya beliau menikah dengan Mas’ud bin Amru ats-Tsaqafi sebelum masuk Islam sebagaimana beliau. Namun beliau banyak mondar-mandir ke rumah saudaranya Ummul Fadhl sehingga mendengar sebagian kajian-kajian Islam tentang nasib dari kaum muslimin yang berhijrah. Sampai kabar tentang Badar dan Uhud yang mana hal itu menimbulkan bekas yang mendalam dalam dirinya.
Tatkala tersiar berita kemenangan kaum muslimin pada perang Khaibar, kebetulan ketika itu Maimunah berada didalam rumah saudara kandungnya yaitu Ummu Fadhl, maka dia juga turut senang dan sangat bergembira. Namun manakala dia pulang ke rumah suaminya  ternyata  dia mendapatkannya dalam keadaan sedih dan berduka cita karena kemenangan kaum muslimin. Maka hal itu memicu mereka pada pertengkaran yang mengakibatkan perceraian. Maka beliau keluar dan menetap di rumah al-‘Abbas.
Ketika telah tiba waktu yang telah di tetapkan dalam perjanjian Hudaibiyah yang mana Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam diperbolehkan masuk Mekkah dan tinggal di dalamnya selama tiga hari untuk menunaikan haji dan orang-orang Quraisy harus membiarkannya. Pada hari itu kaum muslimin masuk Mekkah dengan rasa aman, mereka mencukur rambut kepalanya dengan tenang tanpa ada rasa takut. Benarlah janji yang haq dan terdengarlah suara orang-orang mukmin membahana,”Labbaikallâhumma Labbaika Labbaika Lâ Syarîka Laka Labbaik…”. Mereka mendatangi Mekkah dalam keadaan tertunda setelah beberapa waktu bumi Mekkah berada dalam kekuasaan orang-orang musyrik. Maka debu tanah mengepul di bawah kaki orang-orang musyrik yang dengan segera menuju bukit-bukit dan gunung-gunung karena mereka tidak kuasa melihat Muhammad dan para sahabatnya kembali ke Mekkah dengan terang-terangan, kekuatan dan penuh wibawa. Yang tersisa hanyalah para laki-laki dan wanita yang menyembunyikan keimanan mereka sedangkan mereka mengimani bahwa pertolongan sudah dekat.
Maimunah adalah salah seorang yang menyembunyikan keimanannya tersebut. Beliau mendengarkan suara yang keras penuh keagungan dan kebesaran. Beliau tidak berhenti sebatas menyembunyikan keimanan akan tetapi beliau ingin agar dapat masuk Islam secara sempurna dengan penuh Izzah (kewibawaan) yang tulus agar terdengar oleh semua orang tentang keinginannya untuk masuk Islam. Dan diantara harapannya adalah kelak akan bernaung di bawah atap Nubuwwah sehingga dia dapat minum pada mata air agar memenuhi perilakunya yang haus akan aqidah yang istimewa tersebut, yang akhirnya merubah kehidupan beliau menjadi seorang pemuka bagi generasi yang akan datang. Dia bersegera menuju saudara kandungnya yakni Ummu fadhl dengan suaminya ‘Abbas dan diserahkanlah urusan tersebut kepadanya. Tidak ragu sedikitpun Abbas tentang hal itu bahkan beliau bersegera menemui Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan menawarkan Maimunah untuk Nabi. Akhirnya Nabi menerimanya dengan mahar 400 dirham. Dalam riwayat lain, bahwa Maimunah adalah seorang wanita yang menghibahkan dirinya kepada Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam maka turunlah ayat dari Allah Tabaraka Ta’ala (artinya) :
“….Dan perempuan mukmin yang menyerahkan diri kepada  Nabi kalau Nabi mengawininya sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin….”( al-Ahzab: 50)
Ketika sudah berlalu tiga hari sebagaimana yang telah ditetapkan dalam perjanjian Hudaibiyah, orang-orang Quraisy mengutus seseorang kepada Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Mereka mengatakan: ”Telah habis waktumu maka keluarlah dari kami”. Maka Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan ramah:
“Bagaimana menurut kalian jika kalian bairkan kami dan aku marayakan pernikahanku ditengah-tengah kalian dan kami suguhkan makanan untuk kalian???!”
Maka mereka manjawab dengan kasar: ”Kami tidak butuh makananmu maka keluarlah dari negeri kami!”.
Sungguh ada rasa keheranan yang disembunyikan pada diri kaum musyrikin selama tinggalnya Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam di Mekkah, yang mana kedatangan beliau meninggalkan kesan yang mendalam pada banyak jiwa. Sebagai bukti dialah Maimunah binti Harits, dia tidak cukup hanya menyatakan keislamannya bahkan lebih dari itu beliau daftarkan dirinya menjadi istri Rasul Shallallâhu ‘alaihi wa sallam sehingga membangkitkan kemarahan mereka. Untuk berjaga-jaga, Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidak mengadakan walimatul ‘Urs dirinya dengan Maimunah di Mekkah. Beliau mengizinkan kaum muslimin berjalan menuju Mekkah. Tatkala sampai disuatu tempat yang disebut ”Sarfan” yang beranjak 10 mil dari Mekkah maka Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam memulai malam pertamanya bersama Maimunah radhiallaahu ‘anha. Hal itu terjadi pada bulan Syawal tahun 7 Hijriyah.
Mujahid berkata:”Dahulu namanya adalah Bazah namun Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam menggantinya dengan Maimunah. Maka sampailah Maimunah ke Madinah dan menetap di rumah nabawi yang suci sebagaimana cita-citanya yang mulai, yakni menjadi Ummul Mukminin yang utama, menunaikan kewajiban sebagai seorang istri dengan sebaik-baiknya, mendengar dan ta’at, setia serta ikhlas. Setelah Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam menghadap ar-Rafiiqul A’la, Maimunah hidup selama bertahun-tahun hingga 50 tahunan. Semuanya beliau jalani dengan baik dan takwa serta setia kepada suaminya penghulu anak Adam dan seluruh manusia yakni Muhammad bin Abdullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Hingga, karena kesetiaannya kepada  suaminya, beliau berpesan agar dikuburkan di tempat dimana dilaksanakan Walimatul ‘urs dengan Rasulullah.
‘Atha’ berkata:”Setelah beliau wafat, saya keluar bersama Ibnu Abbas. Beliau berkata:”Apabila kalian mengangkat jenazahnya, maka kalian janganlah menggoncang-goncangkan atau menggoyang-goyangkan”. Beliau juga berkata:”Lemah lembutlah kalian dalam memperlakukannya karena dia adalah ibumu”.
Berkata ‘Aisyah setelah wafatnya Maimunah: ”Demi Allah! telah pergi Maimunah, mereka dibiarkan berbuat sekehendaknya. Adapun, demi Allah! beliau adalah yang paling takwa diantara kami dan yang paling banyak bersilaturrahim”.
Keselamatan semoga tercurahkan kepada Maimunah yang mana dengan langkahnya yang penuh keberanian tatkala masuk Islam secara terang-terangan membuahkan pengaruh yang besar dalam merubah pandangan hidup orang-orang musyrik dari jahiliyah menuju dienullah seperti Khalid dan Amru bin ‘Ash radhiallaahu ‘anhu  dan semoga Allah meridhai para sahabat seluruhnya.

Kisah Sahabat Nabi – Ummu ‘Umarah Pejuang Wanita Sejati


Ummu ‘Umarah
Pejuang Wanita Sejati
Tinta sejarah menjadi saksi, bahwa tidak sedikit wanita mukminah yang terjun kemedanpertempuran, jihad fii sabilillah. Mereka menyelinap di antara lemparan-lemparan lembing, kilatan-kilatan pedang dan jatuhan anak-anak panah. Mereka menyampaikan makanan, minuman dan obat-obatan bagi prajurit mukmin yang berjuang mempertahanakan Islam. Bahkan jika keadaan memintanya untuk menyandang pedang, mereka tidak gentar justru makin berkobar semangatnya. Diantara wanita-wanita pejuang itu adalah Nusaibah binti Ka’af Al-Anshariyah yang terkenal dengan Ummu ‘Umarah.
Sesungguhnya Ummu ‘Umarah merupakan salah satu contoh keberanian dan ketegaran. Ia merupakan sosok kepahlawanan yang tidak pernah absen melaksanakan kewajiban bilamana memanggilnya. Ia adalah shahabiyah yang utama ….. Ia termasuk salah satu dari dua wanita yang bergabung dengan tujuh laki-laki anshar yang berbai’at kepada Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam pada bai’at Aqabah kedua. Pada waktu itu ia bersama suaminya, Zaid bin Ashim dan dua orang putranya, Hubaid bin Zaid dan Abdullah bin Zaid. Dan wanita yang satu lagi adalah saudara perempuannya. Ibnu Sa’ad dalam Thalaqatnya menyatakan (yang terjemahannya): “Hunain, Perang Yamamah dan terpotong tangannya, dan mendengar beberapa hadits dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.”Sedangkan Imam Adz Dzahabi menyatakan (yang terjemahannya): “Ia (Ummu ‘Umarah) adalah wanita yang utama dan wanita dari kalangan anshar, Khazraj, Najjar, Mazin dan juga sebagai orang madinah. Saudaranya Abdullah bin Ka’ab termasuk orang yang ikut Perang Badar, dan saudaranya Abdurrahman termasuk orang yang suka menangis. Ummu ‘Umarah menghadiri malam perjanjian Aqabah. Ia juga ikut dalam Perang Uhud, Perdamaian Hudaibiyah, Perang Hunain, Perang Yamamah dan aktif melakukan beberapa kegiatan.”
Dalam perang Uhud, Ummu ‘Umarah Nusaibah berjuang bersama suaminya dan dua orang putranya. Ia keluar untuk memberi minum dengan membawa qirbah (tempat air). Namun ketika keadaan pasukan Muslimin berubah menjadi terdesak, ia ikut terjun langsung dalam pertempuran sehingga terluka dengan luka-luka sebanyak dua belas (dalam riwayat lain tiga belas. wallaahu a’lam). Tentang peristiwa ini Ummu ‘Umarah mengisahkan (yang terjemahannya): “Keadaan pasukan kaum Muslimin benar-benar berantakan. Banyak orang meninggalkan Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam, tinggal tersisa beberapa orang yang melindungi beliau, termasuk aku, suamiku, serta kedua anakku. Sementara di depanku, banyak orang sedang melarikan diri untuk mundur. Saat itu aku tidak bersenjata. Dan ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melihat seorang laki-laki yang mengundurkan diri sambil membawa perisai, beliau lalu bersabda : “Berikanlah perisaimu kepada orang yang sedang berperang !” Orang tersebut segerea melemparkannya, dan aku segera memungutnya lalu aku gunakan untuk melindungi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Pasukan yang menyerang saat itu adalah pasukan berkuda. Kami yakin, apabila bukan pasukan berkuda pasti kami sudah bisa mengatasinya. Tiba-tiba datang seorang penunggan kuda menyerangku dengan pedang, serangan itu dapat aku tangkis. Ketika dia akan lari aku hantam kaki kudanya dan dia pun jatuh tertelungkup. Saat itu aku dengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berteriak : “Wahai putra Ummu ‘Umarah bantulah ibunya !” Lantas datanglah anakku dan bersama-sama kami habiskan orang itu.”
Ummu ‘Umarah terus bertempur tanpa mengenal lelah, sambil sesekali membantu merawat mereka yang luka. Begitu sibuknya Ummu ‘Umarah, sampai-sampai ia tidak mengetahui kalau putranya Abdullah bin Zaid terluka parah. Ia baru mengetahuinya setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berteriak (yang terjemahannya): “Hai Abdullah ! Kau ikat lukamu dulu baru kau teruskan bertempur lagi !”
Ummu ‘Umarah terkejut mendengar teriakan itu dan segera sadar putranya dalam bahaya. Segera ia mendekati dan mengobati luka putranya yang ternyata memang parah. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengawasi keduanya dan setelah selesai, Ummu ‘Umarah berkata (yang terjemahannya): “Nah … sekarang bangkitlah dan perangilah kaum itu !” Melihat kejadian tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang terjemahannya): “Siapakah yang sanggup melakukan sebagaimana yang kau lakukan ini ya … Ummu ‘Umarah ?” Kemudian datanglah orang yang memukul putranya tadi lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang terjemahannya): “Ya …. Ummu ‘Umarah ! Itu orang yang memukul anakmu datang !” Tanpa banyak berbicara Ummu ‘Umarah menghadang orang yang ditunjukkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan menghantam kakinya sehingga orang tersebut terduduk di tanah. Sambil tersenyum Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang melihat hal itu bersabda (yang terjemahannya): “Engkau telah membalasnya ya Ummu ‘Umarah !” Tak lama kemudian beberapa orang datang dan bersama-sama membunuh orang tersebut, lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda lagi (yang terjemahannya): “Alhamdulillah ….. ! Allah memberikan kesempatan kepadamu untuk membalas musuhmu dan menyaksikan pembalasan itu sendiri.”
Imam Adz Dzahabi meriwayatkan dari Abdullah bin Zaid bin Ashim, ia berkata (yang terjemahannya): “Saya mengikuti perang Uhud, maka ketika orang-orang meninggalkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, saya dan ibu mendekati beliau untuk melindungi. Lalu beliau bertanya : “Mana Ummu ‘Umarah ?” Ibu menjawab : “Ya … wahai Rasulullah” Beliau bersabda : “Lemparilah !” Lalu ibu melempari seorang laki-laki yang sedang naik kuda di depan beliau dengan batu dan mengenai mata kudanya. Kemudian kudanya itu berguncang-guncang keras lantas jatuh bersama penunggangnya, lalu saya tindih orang itu dengan batu dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melihat sambil tersenyum. Kemudian beliau luka ibu di pundaknya, lalu beliau berseru : “Ibumu ! Ibumu ! Balutlah lukanya ! Ya Allah, jadikanlah mereka shahabat saya di dalam syurga” Mendengar itu ibu berkata : “Aku tidak menghiraukan lagi apa yang menimpaku dari urusan dunia ini !”
Allahu Akbar ! Betapa tegarnya engkau wahai Ummu ‘Umarah. Tak lagi engkau menghiraukan lukamu setelah doa yang menggembirakan hatimu ! Begitulah Ummu ‘umarah melewati hari-harinya dengan terus berjuang di jalan Allah ‘Azza wa Jalla. Maka tatkala Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah wafat muncullah si pendusta Musailamah al Kadzdzab ia mengaku sebagai Nabi sehingga kaum Musliminpun memeranginya. Taqdir Allah menentukan bahwa Hubaib putra Ummu ‘Umarah ditawan Musailamah, kemudian disiksa dengan berbagai siksaan. Namun Allah ‘Azza wa Jalla memberikan keteguhan dan ketegaran kepada putra Ummu ‘Umarah ini, meskipun teramat berat siksaan dirasakannya. Akhirnya Allah mentaqdirkan Hubaib mati di tangan Musailamah dengan sangat mengenaskan. Semoga Allah menempatkannya di jannah yang penuh dengan kenikmatan.
Al Waqidi menceritakan (yang terjemahannya): “Ketika sampai kepada Ummu ‘Umarah berita kematian anaknya di tangan Musailamah, maka ia berjanji kepada Allah dan memohon kepada-Nya agar ia juga mati di tangan Musailamah atau ia yang membunuh Musailamah. Maka Ummu ‘Umarah ikut perang Yamamah bersama Khalid bin Walid, lalu Musailamah terbunuh dan tangan Nusaibah terpotong dalam perang tersebut.”
Ummu ‘Umarah berkata (yang terjemahannya): “Tanganku terpotong pada hari perang Yamamah padahal aku sangat berkeinginan membunuh Musailamah. Tidak ada yang dapat melarangku hingga aku melihat orang jahat itu mati terkapar. Dan tiba-tiba aku lihat anakku Abdullah bin Zaid mengusap pedangnya dengan pakaiannya, lalu bertanya kepadanya : “Engkaukah yang membunuhnya ?” Ia menjawab : “Ya” Kemudian aku sujud syukur kepada Allah.”
Itulah sepenggal kisah Ummu ‘Umarah, Nusaibah binti Ka’ab Al Anshariyah, sehingga seorang pejuang wanita yang berjuang dalam hidupnya untuk kejayaan Islam hingga akhir hayatnya, semoga Alllah meridhainya dan menjadikannya ridha. Dan semoga Allah menyambut dengan Rahmat-Nya yang luas dan menempatkannya ke dalam jannah yang penuh dengan ketenangan dan ketentraman yang hakiki.
Wallaahu A’lam Bishashawab.
Dikutip dengan perubahan sedikit dari tulisan Ummu ‘Umar (Majalah Salafy Edisi VII/Shafar/1417/1996 hal.68-69

Visitors like to use keywords:

sahabat nabi perempuan, kisah sahabat wanita rasulullah, kisah sahabat nabi yang perempuan, kisah ummu umarah, sahabat wanita rasulullah, kisah sahabat wanita nabi, pejuang wanita islam, kisah pejuang islam, nusaibah ummu umarah, kisah kisah pejuang islam, kisah ketegaran pejuang islam

Filed in: Kisah Shahabah Tags: , ,
Jenazah diLindungi Sayap Malaikat
Kisah Islamiah pada pagi ini tentang sakaratul maut.
Pada zaman Rasululah SAW, terdapat seorang pejuang gagah berani yang berjuang di jalan Allah SWT.
Karena ketulusannya dalam membela Islam melalui perang, menjadikan jenazahnya dilindungi oleh sayap Malaikat.


Kisahnya.
Tak dapat diketahui secara pasti kelahiran Abdullah bin Amru bin Harram. Abdullah bin Amru ini termasuk golongan 70 orang yang ikut dalam pembaiatan Rasulullah SAW di Aqobah Kedua. Ia juga dipercaya sebagai salah satu ketua dari 12 ketua yang ikut dalam pembaiatan Rasulullah.
Selama hidupnya bersama Rasululah SAW, ia ikut perang Badar dan maju ke medan perang seperti pahlawan yang penuh keberanian.

Sebelum pergi ke medan perang UHUD pada tahun ke 3 Hijriyah, ia berkata,
"Aku tidak ingin melihat aku terbunuh di perang ini tapi aku berharap menjadi orang pertama yang mati syahid diantara orang-orang muslim."


Perang Uhud.
Diantara peperangan yang diikuti adalah Perang Badar dan Uhud.
Pada waktu perang Uhud, anaknya yang bernama Jabir bin Abdullah bercerita bahwa pada suatu malam ayahnya memanggil dirinya pada waktu hendak di mulai perang Uhud. Ayahnys berkata,
"Rasanya sayalah yang akan terbunuh diantara para sahabat dalam perang ini. Semoga saya orang pertama yang mati syahid. Demi Allah, tidak ada seorang pun yang lebih saya cintai setelah Rasulullah SAW melainkan dirimu. Saya mempunyai hutang, maka kelak kalau saya wafat bayarlah hutangku dan berilah nasehat kepada saudaramu yang lain."

Keesokan harinya, umat islam keluar rumah untuk menghadapi kaum kafir Quraisy. Mereka datang dengan tentara yang tidak sedikit.
Terjadilah peperangan yang sangat hebat. Namun para pemanah melanggar perintah Rasululah SAW agar tetap berjaga di tempatnya. Rasul ini merupakan seorang pemimpin perang yang sangat-sangat ulung.

Pada saat pasukan pemanah tidak mematuhi perintah Rasulullah SAW, maka pasukan kafir Quraisy menggempur habis-habisan sehingga umat islam dapat dikalahkan. Di antara pahlawan umat islam yang gugur dalam perang itu adalah Abdullah bin Amru.

Malaikat Hadir.
Setelah selesai berperang, umat islam mengumpulkan pasukannya yang telah wafat.

Jabir pun ikut mencari di mana ayahnya. Setelah itu, akhirnya Jabir menjumpai mayat ayahnya yang sudah tidak bernyawa lagi.
Dalam perang itu, Abdullah bin Amru gugur sebagai Syuhada. Rasulullah SAW ikut belasungkawa sekaligus bangga terhadap Abu Jabir hingga beliau bertakziah ke keluarga Abdullah bin Amru.

Pada waktu Rasulullah SAW melihat Jabir dan keluarganya sedang menangis, Rasul bersabda,
"Kalian menangis atau tidak menangis, para malaikat akan melindunginya dengan saya-sayapnya."

Subhanallah...
Pastilah benar dan sungguh benar setiap kata yang diucapkan oleh Rasulullah SAW.
Setiap kata yang diucapkan tak ada dusta sama sekali, hingga terciptalah judul postingan ini.

Setelah mendengar penuturan Rasululah SAW itu, keluarga Abdullah bin Amru bertambah pasrah dan ikhlas.
Pada suatu hari Rasulullah SAW bersabda,
"Wahai Jabir, Allah tidak pernah berbicara kepada seseorang melainkan di balik tabir. Dan Allah SWT berbicara dengan ayahmu secara langsung."

Makam Baqi'
Suatu saat Rasul juga pernah menceritakan bahwa ada keinginan yang kuat dari ayahnya Jabir ini untuk berjuang membela agama Allah SWT.
Abdullah binAmru pernah berdoa,
"Ya Allah, berikanlah keturunanku nikmat yang engkau berikan padaku."

Rasulullah SAW memerintahkan untuk menguburkan jenazah Abdullah bin Amru bin Harram di kuburan Baqi bersama Amru bin Al-Jumuh dalam satu kuburan.
Sebab keduanya adalah teman akrab yang saling mencintai di jalan Allah SWT selama
Riwayat sepuluh negri yang tenggelam.
anda kenal dgan PLTA koto panjang,terletak antara propinsi Riau dan Sumbar,
duka mendalam di Area ini,
512 kk,kehidupan mereka jauh di bawah garis kemiskinan
Mereka adalah masyarakat yg bersuku minang,yg mendiri kan desa yang di berinama dgan Desa istiqomah, 10 desa yg makmur dahulu di tengglamkan demi kepentingan Elit dan berbuah sengsara bagi 512 kk, tersebut.
Nah,disini saya meminta pendapat dan mungkin ada yang mau membantu saudara kita itu ,untuk perbaikan ekonomi mereka,
Bila ada yg ingin melihat lansung boleh juga. pakia

Kunjungi RI , Bos Besar Freeport Sowan

ke Para Menteri Ekonomi


Bos Freeport McMoran Copper&Gold Inc Richard C
Adkerson bertemu Menteri Energi Sumber Daya Mineral...
(ESDM) Jero Wacik. Kedatangan Adkerson ke kantor
Kementerian ESDM merupakan bagian dari kunjungan
estafet ke sejumlah menteri ekonomi.

Sebelum bertemu Jero, Adkerson telah bertemu dengan
Menteri Perindustrian MS Hidayat, Menteri Keuangan
Chatib Basri, serta Menko Perekonomian Hatta Rajasa.
Dalam kunjungan tersebut, Adkerson membahas aturan
bea keluar mineral mentah yang baru dikeluarkan beberapa
waktu lalu. Aturan tersebut merupakan turunan UU
Minerba Nomor 4 Tahun 2009 yang secara garis besar
melarang ekspor mineral mentah mulai 12 Januari lalu.
Berdasarkan informasi yang diterima dari Pusat
Komunikasi Kementerian ESDM, pertemuan tersebut akan
diakhiri dengan jumpa pers pukul 13.00 WIB, sampai pukul
14.35 WIB rombongan perusahaan tambang Amerika yang
mengeruk emas di Papua tersebut keluar didampingi Wakil
Menteri ESDM Susilo Siswoutomo.

Namun tidak sesuai rencana, rombongan tersebut
langsung menuju mobil yang sudah menunggu di depan
pintu gedung utama Kementerian ESDM. Dalam kunjungan
itu, Adkerson juga didampingi Presiden Direktur Freeport
Indonesia Rozik B Soetjipto.

Adkerson tidak memberi keterangan kepada wartawan. Dia
hanya berkata 'Thank You' sambil menuju mobil Mercedes
Benz warna abu-abu dengan pelat nomor B 55 ANF, di
Kantor Kementerian ESDM, Kamis (30/1/2013).
Menteri Perindustrian MS Hidayat mengungkapkan, pihak
Freeport mau membangun smelter atau pabrik pemurnian
di Indonesia asal diberi keringanan bea keluar.
"Jadi dia bersedia membangun smelter jika mendapat
relaksasi BK. Lalu saya bilang tidak bisa. Saya suruh
datang ke Pak Hatta Rajasa (Menteri Perekonomian) dan
Pak Chatib Basri (Menteri Keuangan)," tandas dia.
INI BARU PATUT DIACUNGI JEMPOL
Tunisia Resmi Jadikan Syariat Islam Sebagai Dasar Negara
.
Indonesia Kapan?
...
MAJELIS Nasional Tunisia dikabarkan telah menyetujui konstitusi barudasar negara dalam rangka membangun demokrasi.
Akhirnya, setelah tiga tahun lebih pemberontakan rakyat yang menyebabkan jatuhnya Zainal Abidin bin Ali, mantan diktator negara ini, Syariat Islam dijadikan sebagai dasar negara.
Tepat sebelum pemungutan suara konstitusi, Mehdi Jumat, Perdana Menteri Tunisia, telah membentuk kabinet baru sebagai bagian dari perjanjian untuk mengakhiri krisis selama tiga tahun negara ini.
Krisis antara Islam berkuasa dan oposisi sekuler, dalam beberapa bulan terakhir terlihat semakin kentara,shabestanmelaporkan pada Selasa (28/1/2014).
Setelah voting bersejarah ini dilaksanakan, bendera putih dan merah Tunisia dikibarkan, dan para perwakilan merayakan penetapan konstitusi ini.
Mustafa bin Ja’far, juru bicara Majelis mengatakan, konstitusi dasar ini merupakan impian rakyat Tunisia sejak dulu. Ja’far percaya perubahan konstitusi ini akan menciptakan sebuah negara sipil yang demokratis.
Dalam konstitusi baru, Islam diakui sebagai agama resmi negara. (*theGlobe/isp)

Bayangkan Kalau Di Indonesia yang sebagai Negara Berpenduduk Muslim Terbesar di Dunia Mengesahkan Syari'at Islam sebagai Dasar Negara, wuiih Mantap sekali itu. Tapi apakah Mungkin?
Lihat Selengkapnya